ORANG MISKIN DILARANG SAKIT Moslem.Blog: ORANG MISKIN DILARANG SAKIT

ORANG MISKIN DILARANG SAKIT

Wednesday, September 29, 2010

Sudah tidak bisa disangkal lagi, biaya kesehatan di Indonesia tidak bisa dibilang murah. Obat-obatan dan peralatan medis yang kebanyakan dari mancanegara semakin membuat harga obat dan perawatan rumah sakit semakin membumbung tinggi. Akibatnya sungguh memilukan. Banyak cerita tragis, terutama yang menimpa saudara kita yang tidak mampu membayar biaya perawatan rumah sakit. Dan, tidak sedikit, nyawa keluarga tercinta mereka meregang akibat tertunda mendapat perawatan karena kendala dana. Cerita pilu datang dari Medan. Krispinaldi dan Roida Panjaitan harus kehilangan dua anak yang dicintainya. Kisah bermula ketika kedua anaknya dirawat di sebuah rumah sakit dekat kediamannya karena terserang demam berdarah dengue. Setelah dirawat beberapa hari anak pertama, Daniel tidak tertolong jiwanya.
“Ketika anak saya meninggal dunia, hati saya hancur, dan saya berusaha sekuat tenaga menyelamatkan nyawa Rebecca,” ujar Roida sambil menangis. Dan, ternyata setelah dirawat selama 19 hari kondisi Rebecca tak kunjung ada kemajuan. Maka Roida dan suaminya, Krispinaldi berupaya memindahkan perawatan anakknya, Rebecca ke rumah sakit lain. Namun, usahanya itu tidak berjalan mulus, karena pihak rumah sakit minta agar mereka harus membayar biaya perawatan terlebih dulu. Ketika mereka sedang mengusahakan biaya perawatan itu, nyawa Rebecca meregang dan meninggal dunia menyusul kakaknya Daniel. Krispinaldi dan Roida yang ekonomi pas-pasan itu pun kembali harus menelan pil yg sangat pahit.
Pengalaman pahit dengan rumah sakit juga dialami pasangan Erwin Lubis dan istrinya Endriyana. Ketika bayi yang merupakan putra ketiga mereka lahir ternyata tidak sempurna yaitu tidak mempunyai dinding perut. Akibatnya, bayi yang diberi nama Rizki itu perutnya makin membesar. Mereka pun dengan sekuat tenaga membawa anaknya untuk mendapatkan perawatan. Namun, sejumlah rumah sakit di daerah Tangerang menolak dengan berbagai alasan seperti, kamar penuh, alat medis yang terbatas dan rumah sakit yang sedang direnovasi. Di tengah keputus-asaan itulah ada seorang wartawan yang peduli dan memberitakannya. Erwin Lubis yang pedagang kelontong itu pun mendapat pertolongan dari dinas kesehatan setempat. Namun, lagi-lagi karena terlambat mendapat perawatan, nyawa Rizki tidak tertolong. “Ya, saya sangat sedih, mengapa saya sebagai ayah tidak berdaya menolong anak saya,” ungkap Erwin Lubis sambil menangis tersedu.
Pengalaman memilukan juga dialami Siti Jaenab warga Cikupa, Tangerang, Banten. Kisah bermula ketika ia merasa perutnya mulas dan sedang di kamar mandi. Tak disangka-sangka ketika ia sedang buang hajat, ternyata ia melahirkan tiga bayi prematur di kamar mandi. “Bahkan satu anak diantaranya kepalanya membentur lantai kamar madi,”ujar Jainab. Bersama kakak iparnya, Ismail ia membawa anaknya ke rumah sakit terdekat. Jainab yang hanya pegawai buruh pabrik itu mengalami kesulitan ketika membawa anaknya ke rumah sakit. Sebagaian besar rumah sakit mensyaratkan pasien harus menyetor uang muka terlebih dahulu sebagai jaminan. Setelah melalui perjalanan berliku akhirnya ia berhasil menemukan rumah sakit yang tidak mensyaratkan membayar uang muka terlebih dahulu.Namun di rumah sakit ini peralatannya tidak lengkap, karena hanya mempunyai dua inkubator, atau pemanas bayi. Dengan terpaksa ia membawa satu anaknya yang tidak kebagian inkubator di rumah sakit pulang ke rumah. Ia pun membuat inkubator buatan dengan memasang bohlam lampu listrik. “Saya terinspirasi membuat inkubator buatan itu ketika melihat peternakan ayam.”kata Jainab memberi alasan. Namun, karena semua serba terbatas, bayi yang ia bawa pulang itu akhirnya meninggal dunia. Compromising Positions
Maraknya kasus seperti ini membuat kita semakin prihatin. Sudah sangat diharapkan agar pemerintah segera turun tangan membantu mereka. Banyak di antara mereka ternyata tidak tahu program pemerintah Jamkesmas, atau Jaminan Kesehatan Masyarakat. Kebanyakan pemerintah baru turun tangan dan ramai-ramai mengulurkan tangan setelah kasus itu diangkat di media. Sungguh sangat disayangkan ! (end)

0 comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget