GAYA pada PEGAS

Wednesday, November 25, 2009

I. TUJUAN
1. Mengenal penerapan hukum hooke pada pegas
2. Menentukan konstanta pegas
3. Menentukan konstanta pegas gabungan
4.Mengenal persamaan linear dalam eksperimen


II. TINJAUAN TEORI
Bila suatu benda dikenai sebuah gaya dan kemudian gaya tersebut dihilangkan, maka benda akan kembali ke bentuk semula, berarti benda itu adalah benda elastis. Namun pada umumnya benda bila dikenai gaya tidak dapat kembali ke bentuk semula walaupun gaya yang bekerja sudah hilang. Benda seperti ini disebut benda plastis. Contoh benda elastis adalah karet ataupun pegas. Bila pegas ditarik melebihi batasn tertentu maka benda itu tidak akan elastis lagi. Lalu bagaimanakah hubungan pertambahan panjang dengan gaya tarik?
Karena besarnya gaya pemulih sebanding besarnya pertambahan panjang, maka dapat dirumuskan bahwa:

F = -k.x
dengan,
k = konstanta pegas
Fp = Gaya Pemulih (N)
x = Perpanjangan Pegas (m)
Persamaan inilah yang disebut dengan Hukum Hooke. Tanda negatif (-) dalam persamaan menunjukkan berarti gaya pemulih berlawanan arah dengan arah perpanjangan
Elastisitas suatu benda itu hanya dialami oleh benda yang tidak terbuat dari plastik .Sifat elastisitas bagi suatu benda sangat penting. Suatu benda masih dapat dikatakan elastis jika saat gaya yang bekerja pada benda tersebut ditiadakan dan benda kembali pada keadaan semula.Sifat elastis suatu benda memiliki batas.
Jika suatu pegas ditekan atau ditarik maka pegas itu akan memberikan gaya yang berlawanan dengan arah gaya tekan.


Gambar 1.1.Gaya pada pegas

Sebuah pegas mula-mula dalam keadaan bebas lalu kemudian diregangkan sehingga pegas bertambah panjang, maka besar gaya yang bekerja pada pegas dapat diketahui melalui persamaan :

F = kx

Keterangan : F = Gaya yang bekerja pada pegas (N)
k = lonstanta gaya pegas (N/m)
x = pertambahan panjang pegas (m)


Gambar 1.2.Hukum Hooke
”jika gaya tarik tidak melampaui batas elastis pegas,pertambahan panjang pegas berbanding lurus (sebanding) dengan gaya tariknya”.
Pernyataan ini dikemukakan oleh Robert Hooke, oleh karena itu, pernyataan di atas dikenal sebagai Hukum Hooke.Untuk menyelidiki berlakunya hukum hooke, dapat dilakukan percobaan pada pegas. Selisih panjang pegas ketika diberi gaya tarik dengan panjang awalnya disebut pertambahan panjang(l).
Setelah menyelidiki sifat elastisitas bahan, maka akan diukur pertambahan panjang pegas dan besarnya gaya yang diberikan. Dalam hal ini, gaya yang diberikan sama dengan berat benda = massa × percepatan gravitasi.
Pegas ada disusun tunggal, ada juga yang disusun seri ataupun paralel. Untuk pegas yang disusun seri, pertambahan panjang total sama dengan jumlah masing-masing pertambahan panjang pegas sehingga pertambahan total x adalah:
x = x1 + x2
Sedangkan untuk pegas yang disusun paralel, pertambahan panjang masing-masing pegas x1 = x2 = x
Dengan demikian:
Kp= k1 + k 2
Setiap nilai k untuk bahan yang berbeda adalah merupakan ciri khusus dari tiap bahan.
bila suatu pegas ditarik gaya sebesar F maka pegas tersebut akan bertambah besar sepanjang x.tapi pada keadaan tertentu dimana gaya yang diberikan melebihi batas kemampuan dari pegas, maka maka panjang pegas tidak akan bias bertambah lagi. Maka hokum hook tidak ada atau berlaku lagi. Apabila gaya yang dikenakan pada pegas dihilangkan, maka pegas akan bergerak seperti keadaan awal.
Besar gaya yang diperlukan untuk kembali ke keadaan semula ini dinamakan sebagai gaya pemulih. Berdasarkan hukum III Newton, maka besarnya gaya pemulih sama dengan gaya yang diberikan untuk menarik pegas, hanya tandanya berlawanan.
Tanda (-) menunjukan bahwa gaya pemulih berlawanan dengan gaya penyebabnya.
Perlu selalu di ingat bahwa hukum hooke hanya berlaku untuk daerah elastik, tidak berlaku untuk daerah plastik maupun benda-benda plastik.



III ALAT DAN BAHAN

1. Pegas
2. Penggaris
3. Beban
4. Statis


IV. PROSEDUR










Gambar 1.3. Rangkaian peralatan pegas

1. Pertama peralatan seperti pada gambar dirangkai
2. Lalu massa m1 diukur
3. Pegas di beri beban bermassa m1 seperti pada gambar
4. Kemudian Pertambahan panjang pegas x1 diukur
5. Lalu langkah 2 ─ 4 diulangi untuk m2,m3,m4


















V. HASIL PENGAMATAN/PERCOBAAN
• Panjang awal (sebelum diberi beban)


no x (cm)
1 22,30
2 22,40
3 22,20
4 22,10
5 21,99









































Panjang setelah diberi beban
Pengamatan ke Massa
(gram) x
(cm)
I m1 = 50,00
m2 = 50,20
m3 = 50,10
m4 = 49,95
m5 = 50,15 x1 = 24,70
x2 = 24,90
x3 = 24,85
x4 = 24,60
x5 = 24,80
II m1 = 100,00
m2 = 99,90
m3 = 100,85
m4 = 99,98
m5= 100,05 x1 = 26,70
x2 = 26,40
x3 = 26,80
x4 = 26,50
x5 = 26,75
III m1= 150,0
m2 = 150,2
m3 = 150,1
m4 = 149,9
m5 = 150,0 x1 = 28,69
x2 = 28,72
x3 = 28,7
x4 = 28,60
x5 = 28,69
IV m1 = 200,0
m2 = 200,05
m3 = 200,10
m4 = 199,9
m5 = 199,8 x1 = 30,76
x2 = 30,78
x3 = 30,80
x4 = 30,75
x5 = 30,70













































VI. PERHITUNGAN


Bentuk regresi linier adalah Y= a + bxi ( dengan xi sebagai variabel bebas )

No. Massa
mi + ∆mi (kg) pertambahan panjang
yi + ∆yi (m)
1 mi 1 = 0,05008 yi 1 = 0,02572
2 mi 2 = 0,100156 yi 2 = 0,04432
3 mi 3 = 0,15004 yi 3 = 0,06482
4 mi 4 = 0,19997 yi 4 = 0,0856









No mi
(kg) mi2
(kg)2 yi
(m) yi mi
(m.kg)
1 mi 1 = 0,05008 0,0025 0,02572 0,0013
2 mi 2 = 0,100156 0,0100 0,04432 0,0044
3 mi 3 = 0,15004 0,0225 0,06482 0,0097
4 mi 4 = 0,19997 0,0400 0,08560 0,0171
∑ = 0,500246 ∑ = 0,0975 ∑ = 0,69134 ∑ = 0,0325














Maka,


∑ yi ∑ mi¬¬2 − ∑ mi ∑ mi yi
Nilai harga a dengan a = ──────────────────── n ∑ mi2 − ( ∑mi )2

(0,69134)( 0,0975 ) − (0,500246)( 0,0325)
= ───────────────────────────
4(0,0975) − 0,0975


0,067 − 0,016
= ───────────────
0,39 − 0,0975

0,051
= ─────
0,2925

a = 0,174 m




n ∑ mi yi − ∑ mi ∑ yi
Nilai harga b dengan b = _______________________
n ∑ mi2 − ( ∑ mi )2

4 (0,0325) − 0,500246 (0,69134)
= ________________________________

4 (0,500246) − 0,0975

0,13 − 0,346
= ________________

2,01 − 0,0975

-0,216
= __________
1,91

= -0,113 m


Sehingga, sesuai dengan bentuk regresi linier Y= a + bxi tersebut maka diperoleh regresi linier :

Y = 0,174 ─ 0,113Xi






g = m/s2 F = mi.g
(N ) yi (m) k = F/y
(N/m)
9,8 0,49078 0,02572 19,08
9,8 0,98153 0,04432 22,15
9,8 1,47040 0,06482 22,68
9,8 1,9597 0,08560 22,89

Grafik pertambahan panjang y meter dan gaya berat F dalam Newton







Gradient dari grafik di atas :

∆F 1,2256
Gradien, m = ─── = ───── = 22,28
∆X 0,055




VII. RALAT KERAGUAN

1. Massa 1

m m
m - m
(m - m )2

50 × 10-3 50,08 × 10-3 -0,08 × 10-3 64 ×10-10
50,2 × 10-3 50,08 × 10-3 0,12 × 10-3 144 ×10-10
50,1 × 10-3 50,08 × 10-3 0,02 × 10-3 4 × 10-10
49,95 × 10-3 50,08 × 10-3 -0,13 × 10-3 169 × 10-10
50,15 × 10-3 50,08 × 10-3 0,07 × 10-3 49 ×10-10
∑= 250,4 × 10-3
∑= 430 × 10-10



Δm = √(m - m )2 / √n( n – 1 )
= √( 430 × 10-10 )/ √( 20)
= √21,5 × 10-10
= 4,6 × 10-5
m ± Δm = (50,08 × 10-3 ± 4,6 × 10-5) kg


y y
y – y
( y - y )2

0,02502 0,02572 -7 × 10-4 49 × 10-8
0,02702 0,02572 13 × 10-4 169 × 10-8
0,02652 0,02572 8 × 10-4 64 × 10-8
0,02402 0,02572 -17 × 10-4 289 × 10-8
0,02602 0,02572 3 × 10-4 9 × 10-8
∑= 0,1286
∑= 580 × 10-8








Δy = √( y - y )2/ √n( n – 1 )
= √(580 × 10-8)/ √( 20)
= √29 ×10-8
= 5,4×10-4 m
y ± Δy = (0,02572 ± 5,4 × 10-4) m

F = m .g
k . y = m .g
k ± Δk = (m ± Δm / y ± Δy ) (g)
= [( m / y ) ± ( Δm / m + Δy / y ) (m / y )] (g)
= [(50,08 × 10-3 / 0,02572) ± (4,6 × 10-5 / 50,08 × 10-3 + 5,4×10-4/ 0,02572) (50,08 × 10-3 / 0,02572)] (9,8)
= [1,95 ± (9,2 ×10-4+0,021)(1,95)] (9,8)
= [1,95 ± (0,02192)(1,95)] (9,8)
= [1,95 ± 0,045] (9,8)
= 19,11 ± 0,441 N/m


Ralat Nisbi = Δk / k × 100 %
= 0,441 / 19,11 × 100 %
= 0,02307%
Kebenaran praktikumnya adalah 100% - 0,02307% = 99,97693%

2. Massa 2

Dengan cara yang sama dengan perhitungan ralat pada massa 1 maka akan dihasilkan :

m ± Δm = (0,100156 ± 1,75 × 10-4) kg
y ± Δy = (0,04432 ± 7,7 × 10-4) m
k ± Δk = (22,148 ± 0,4155 ) N/m
Ralat Nisbi = 1,9 %
Kebenaran praktikumnya adalah 99,81 %


3. Massa 3

Dengan cara yang sama dengan perhitungan ralat pada massa 1 maka akan dihasilkan :

m ± Δm = (0,15004 ± 5,05× 10-5) kg
y ± Δy = (0,06482 ± 2,07 × 10-4) m
k ± Δk = (22,54 ± 0,0796 ) N/m
Ralat Nisbi = 0,35 %
Kebenaran praktikumnya adalah 99,65 %

4. Massa 4

Dengan cara yang sama dengan perhitungan ralat pada massa 1 maka akan dihasilkan :

m ± Δm = (0,19997 ± 4,62 × 10-5) kg
y ± Δy = (0,0856 ± 16,85 ×10-5) m
k ± Δk = (22,93 ± 0,02156 ) N/m
Ralat Nisbi = 0,094 %
Kebenaran praktikumnya adalah 99,906 %











VIII. PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil praktikum fisika dasar I, mengenai gaya pada pegas, maka diperoleh data sebagai berikut :
mi (kg) yi (m)
mi 1 = 0,05008 yi 1 = 0,02572
mi 2 = 0,100156 yi 2 = 0,04432
mi 3 = 0,15004 yi 3 = 0,06482
mi 4 = 0,19997 yi 4 = 0,0856



Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin besar massa benda yang digantungkan pada pegas, maka semakin besar pula pertambahan panjang pada pegas. Dari data yang diperoleh, juga dihasilkan regresi linier yaitu

Y = 0,174 ─ 0,113xi
Maka sesuai grafik dari hasil data tersebut, diperoleh bahwa untuk mencari nilai konstanta k, dihubungkan dengan pertambahan panjang pada pegas yo dengan gaya F dalam Newton, diperoleh hasil dari nilai konstanta. Grafik yang diperoleh biasanya berbentuk segitiga dan juga berbentuk garis lurus.
Dimana sesuai data yang diperoleh, tentang Hukum Hooke pada pegas, dengan :
F = k. x
Karena F berbanding lurus dengan gaya berat, W = m. g
Sehingga
m. g = k. x
maka,
k = (m. g) / x
Maka sesuai dengan grafik dan data di atas k = F/y atau k = (m. g) / y. Dimana y adalah pertambahan panjang pada pegas.
k (N/m)
19,08
22,15
22,68
22,89
Dengan nilai konstanta



Sehingga diperoleh nilai gradient adalah 22,28:
m = Δ F / Δ x
keterangan m = gradient
Δ F = pertambahan gaya (N)
Δ x = pertambahan panjang pegas ( m )

IX. KESIMPULAN
1) Sesuai dengan hokum hook maka Semakin besar massa diberikan, maka semakin besar nilai pertambahan panjangnya.
2) jika nilai F dan ∆l semakin besar. Maka konstanta yang didapat semakin besar pula, sehingga terbentuk grafik yang berbentuk garis lurus.
3) Pertambahan panjang berbanding lurus dengan W=m.g yang bekerja pada benda.



DAFTAR PUSTAKA

Tipler, 1998. Fisika untuk Sains dan Teknik, Jilid 1, penerbit Erlangga Jakarta.
Goskan,Atipi K. 2001. Fisika SMU. Surabaya : Nagoya.
Zemzem, Sears. 1990.Fisika Surabaya: Sentosa.





READ MORE - GAYA pada PEGAS

BEBERAPA REAKSI KIMIA TERBARU

I. Tujuan Percobaan
• Mengenal dan mengetahui fungsi, serta cara – cara menggunakan alat – alat praktikum
• Mengetahui konsep reaksi kimia
• Mengamati peristiwa perubahan kimia saat percobaan berlangsunng

II. LANDASAN TEORI
Ilmu kimia mempelajari tentang peristiwa kimia yang ditandai dengan berubahnya suatu zat menjadi zat lain. Semua materi selalu mengalami perubahan.
Misalnya :
Etanol + Oksigen  Karbon dioksida + Air
Zat yang mengalaami perubahan disebut zat pereaksi (reaktan) dan zat yang terbentuk disebut hasil reaksi (produk). Dalam hal ini etanol dan oksigen adalah pereaksi, sedangkan karbon dioksida dan air adalah hasil reaksi.
Kehidupan di dunia tidak lepas dari perubahan kimia. Pernapasan merupakan bagian dari perubahan kimia. Kita memasukkan 02 ke dalam tubuh yang akan bereaksi dengan glukosa menghasilkan H2O dan CO2. Reaksi ini menghasilkan energi yang berupa panas untuk menjaga suhu tubuh dan energi gerak.
Ciri – ciri perubahan kimia :
Secara umum ada 4 macam petunjuk yang menandai adanya perubahan kimia, yaitu :
1. Perubahan suhu
Larutan natrium hidroksida dan larutan asam klorida dicampur di dalam tabung reaksi maka akan menghasilkan natrium klorida yang hangat pada dinding tabung.
2. Perubahan warna
Gula dipananaskan akan menghasilkan karbon dan uap air karbon berwarna hitam dan terasa pahit.
3. Pembentukan gas
Logam zink dimasukan ke dalam tabung reaksi larutan asam sulfat akan menghasilkan zink sulfat. Reaksi ini disertai pembentukan gelembung gas.
4. Pembentukan endapan
Larutan perak nitrat dicampur dengan larutan natrium klorida menghasilkan perak klorida dan natrium nitrat. Reaksi ini menghasilkan endapan putih dari perak klorida.

Bidang kimia yang mempelajari aspek kuantitaif unsure dalam suatu peristiwa atau reaksi disebut “STOIKIOMETRI” (bahasa Yunani : Stoichea = unsur , metrain = mengukur), jadi Stoikiometri adalah perhitungan kimia yang menyangkut hubungan kuantitatif zat yang terlibat dalam reaksi kimia. Pada persamaan reaksi kimia berlaku Hukum Kekelan Massa, yang dikemukakan oleh “Lavoiser”. Pada tahun 1774 ia melakukan penelitian dengan memanaskan timah dengan oksigen dalam wadah tertutup. Dengan mengamati secara teliti, ia berhasil membuktikan bahwa dalam reaksi itu tidak terjadi perubahan massa. Hukum Kekelan Massa itu menyatakan bahwa setiap reaksi kimia, massa zat – zat setelah bereaksi adalah sama dengan zat sebelum bereaksi.
Jika suatu perubahan kimia terjadi, kita dapat mengamati salah satu atau beberapa peristiwa-peristiwa berikut :
 Habisnya zat yang bereaksi
 Zat yang bereaksi lenyap
 Timbulnya gas
 Terjadi perubahan warna
 Timbul endapan
 Terjadi perubahan suhu
 Tercium adanya bau yang baru
Faktor – faktor ini digunakan untuk menunjukkan apakah suatu reaksi kimia telah terjadi atau tidak. Dalam system periodik, golongan A maupun golongan B dapat mengalami perubahan kimia. Salah satu contoh unsure yang termasuk golongan B, yaitu Cu (Tembaga).
Cu (Tembaga) merupakan salah satu unsure logam transisi yang berwarna cokelat kemerahan dan merupakan konduktor panas dan listrik yang sangat baik. Di alam, tembaga terdapat dalam bentuk bebas maupun dalam bentuk senyawa-senyawa, dan terdapat dalam bentuk biji tembaga seperti (CuFeS2), cuprite (Cu2O), chalcosite (Cu2S), dan malasite (Cu2(OH)2CO3).
Tembaga dapat bersanya dengan unsur-unsur lain, dalam percobaan kali ini kita akan mereaksikan Cu dengan beberapa senyawa hingga mendapatkan kembali Cu dengan jumlah yang sama dengan jumlah awal. Persamaan-persamaan kimia itu adalah :
a) 3 Cu + 8 HNO3 3 Cu(NO3)2 + 2 NO + 4 H2O
Dalam reaksi di atas, Cu akan berkurang dan larutan berwarna biru. Gas yang dihasilkan adalah gas NO yang beracun dan tidak berwarna.
b) Cu(NO3)2 yang dapat direaksikan dengan NaOH :
Cu(NO3)2 + 2 NaOH 2 NaNO3 + Cu(OH)2
Dalam reaksi ini, terjadi perubahan warna larutan menjadi biru muda.
c) Cu(OH)2 yang dihasilkan, kemudian dipanaskan dengan penambahan 100ml air suling.
Cu(OH)2 CuO + H2O
Dalam pemanasan ini, larutan yang dihasilkan berubah menjadi bening (cairannya), dan terbentuk pula endapan CuO berwarna hitam yang terpisah dari cairan beningnya.
d) CuO yang didapat, ditambahkan dengan H2SO4
CuO + H2SO4 CuSO4 + H2O
Dalam reaksinya, CuSO4 yang dihasilkan berubah kembali menjadi warna biru.
e) CuSO4 kemudian ditambahkan dengan logam Zn
CuSO4 + Zn Cu + ZnSO4
Dalam reaksinya, larutan menjadi terpisah antara cairan ZnSO4 yang berwarna bening dan serbuk Cu yang berwarna merah bata
f) Untuk mendapatkan Cu kembali, didekantasi dengan 50ml air suling sebanyak 3 kali, lalu panaskan hingga massanya konstan dan massa Cu ssetelah berreaksi sama dengan massa Cu sebelum reaksi.


III. ALAT DAN BAHAN
A. Alat :

1. Neraca elektronik
2. Gelas beker
3. Kaca arloji
4. Steambath / alat pemanas
5. Cawan penguap
6. Batang pengaduk (spatula)
7. Gelas ukur
8. Penjepit
9. Pipet tetes
10. Botol semprot


B. Bahan :
1. Tembaga (Cu) 0,1901 gram
2. Larutan HNO3
3. Larutan NaOH
4. Air suling
5. Larutan H2SO4
6. Zn dalam bentuk serbuk





IV. LANGKAH KERJA
A. Langkah I (reaksi antara logam Cu dan HNO3)
• Timbang terlenih dahulu lempengan Cu dan catat massanya



Logam Cu


Timbangan elektronik

• Potong / gunting kecil – kecil lempengan Cu, kemudian masukkan potongan logam Cu kedalam gelas beker 250 ml



 Gelas kimia / gelas beker


• Ukurlah sebanyak lebih kurang 5 ml larutan HNO3 dengan menggunakan gelas ukur , lalu larutan Cu tersebut di tuangkan ke dalam gelas kimia atau gelas beker yang berisi logam Cu.








• Tutup gelas beker dengan menggunakan kaca arloji , agar cepat bereaksi maka di kocok – kocok sesekali.





• Tunggu perubahan reaksi yang terjadi selama lebih kurang 2 minggu dan amati lalu catat apa yang telah terjadi!

B. Langkah II (Penambahan larutan NaOH)
• Campurkan larutan NaOH sesuai dengan kebutuhan ke dalam gelas beker yang berisi larutan Cu(NO3)2 dari hasil percobaan langkah I, lalu diaduk.







• Tunggu beberapa menit sambil tetap mengaduk, dan lihat apa yang terjadi!
• Catat setiap hasil pengamatan yang dilakukan!

C. Langkah III (Pemanasan)
• Tambahkan larutan Cu(OH)2 dengan air suling sebanyak lebih kurang 40 ml, aduk larutan yang sudah di campurkan tadi.






• Pananaskan campuran Cu(OH)2 dan air suling tadi selama lebih kurang 30 menit dan diaduk secara perlahan – lahan.







• Setelah mendidih matikan pemanas dan dinginkan selama lebih kurang 5 menit
• Keluarkan pengaduk dari larutan, semprotkan dengan aquades untuk melepaskan partikel – partikel yang melekat.





• Tuangkan cairan bening ke dalam gelas kimia terpisah (dekantasi). Hati – hati agar padatan yang ada tidak ikut tertuang.








• Cuci hasil padatan dalam gelas kimia dengan penambahan 40 ml air suling, kemudian biarkan zat padat kembali mengendap, selanjutnya didekantasi lagi.








• Simpanlah hasilnya untuk pengerjaan percobaan berikutnya!






D. Langkah IV
• Tambahkkan larutan H2SO4 secukupnya sesuai aturan ke dalam








• Aduklah secara perlahan – lahan dan biarkan!
• Amati dan catat hasil pengamatan yang telah dilakukan!

E. Langkah V
• Timbang logam Zn sesuai dengan ukuran yang ada







• Tambahkan sesuai ukuran logam Zn ke dalam hasil reaksi kimia pada percobaan IV yaitu larutan CuSO4, kemudian tutuplah gelas kimia tersebut dengan kaca arloji sambil di goyang – goyangkan.





• Diamkan dan biarkan reaksi berlangsung sampai Zn habis bereaksi
• Simpanlah hasil percobaan ini ditempat yang aman, lalu tunggu hasilnya selama 1 mingu
• Amati apa yang terjadi dan catat hasilnya!

F. Langkah VI
• Dekantasi cairan bening dalam gelas kimia dari padatannya


• Cuci hasil dengan 50 ml air suling, biarkan padatannya mengendap, kemudian dekantasi kembali. Ulangi pencucian dan proses dekantasi (dua kali lagi).
Air suling




Endapan



• Timbang dengan teliti cawan penguap yang bersih, catat massanya






• Tuangnkan air kedalam gelas kimia, lalu letakkan padatan ke atas kaca arloji kemudian keringkan hasilnya dengan memanaskan cawan penguap ini diatas steambath . Dan timbang cawan penguap beserta isinya . Catat massanya!








• Hitung massa dari Cu, kemudian hitung rendemannya.



V. HASIL PENGAMATAN
A. LANGKAH I
NO REAKSI PENGAMATAN
1. LOGAM Cu
• Wujud
• Warna
• Bentuk
• Massa
• Padatan
• Kuning kemerahan
• Lempengan tipis / plat
• 0,1901 gram
2. LARUTAN HNO3
• Wujud
• Warna
• Bentuk
• Volum
• Cair
• Bening
• Larutan
• 1,9 ml (2 ml)
3. 3Cu + 8HNO3 → 3Cu (NO3)2 + 2NO + 4H2O • Perubahan warna larutan (menjadi warna biru)
• Adanya bau
• Timbulnya gas (coklat kemerahan)
• Habisnya zat yang bereaksi
• Perubahan suhu menjadi panas

B. LANGKAH II
NO REAKSI PENGAMATAN
1. LARUTAN NaOH
• Volume
• Wujud
• Warna
• Bentuk
• 14 ml
• Cair
• Bening mengental
• Larutan
2. Cu(NO3)2 + 2NaOH → Cu(OH)2 + 2NaNO3 • Perubahan warna larutan menjadi biru pekat
• Timbulnya endapan
• Suhu terasa hangat
• Zat yang bereaksi telah terlarut


C. LANGKAH III
NO REAKSI PENGAMATAN
1. Cu(OH)2 saat diaduk dan ditambahkan dengan air suling
• Volume
• Wujud
• Warna
• Bentuk

• 40 ml
• Cair
• Biru pekat (ijo butek)
• Larutan
• Adanya endapan
2. Pemanasan larutan Cu(OH)2
Cu(OH)2 → CuO + H2O • Timbulnya bau
• Perubahan warna ( hitam pekat setelah mendidih)
• Adanya endapan berwarna hitam
• Suhu menjadi panas karena adanya proses pemanasan
3. Setelah didinginkan lebih kurang 5 menit • Adanya endapan berwarna hitam yang merupakan CuO
• Aadanya cairan bening diatas endapan yang merupakan H2O

D. LANGKAH IV
NO REAKSI PENGAMATAN
1. LARUTAN H2SO4
• Volume
• Wujud
• Warna
• Bentuk
• 3 ml
• Cair
• Bening
• Larutan
2. CuO + H2SO4 → CuSO4 + H2O • Adanya perubahan warna menjadi biru muda (seperti warna Cu awal)
• Zat yang bereaksi telah habis terlarut

E. LANGKAH V
NO REAKSI PENGAMATAN
1. LOGAM Zn
• Massa
• Wujud
• Warna
• Bentuk
• 0,189 gram (0,2 gram)
• Padat
• Abu – abu
• Serbuk halus
2. CuSO4 + Zn → ZnSO4 + Cu • Adanya perubahan warna menjadi biru tua
• Adanya gelembung gas
• Adanya endapan berwarna merah bata
• Zat yang bereaksi mengendap




F. LANGKAH VI
NO REAKSI PENGAMATA N
1. Padatan Cu yang diperoleh setelah dipanaskan • Adanya padatan Cu yang berwarna merah bata
• Massa Cu kembali sebanyak 0,2 gram


VI. PEMBAHASAN
A. LANGKAH I
Untuk mengamati peristiwa kimia yang terjadi maka dalam percobaan siklus tembaga ini, digunakan logam Cu sebanyak yang diperlukan. Cu yang digunakan berwujud padat, warna merah kekuningan, bentuknya plat, dan jenis unsurnya adalah logam. Logam Cu adalah logam dari unsur transisi periode keempat yang paling baik mengantarkan listrik. Kegunaan logam Cu yakni untuk kabel – kabel listri, perhiasan rumah tangga, sebagai campuran uang logam, perunggu dan kuningan. Dampak negatifnya adalah mudah terbakar dalam bentuk serbuk halus.
Pada percobaan ini terjadi reaksi antara logam Cu dan larutan asam nitrat sesuai persamaan reaksi dibawah ini :
Cu + HNO3 →
3 Cu → 3 Cu2+ + 6e-
6e- + 8 H+ + 2NO3- → 2NO + 4H2O
8H+ + 3Cu + 2NO3- → 3Cu2+ + 2NO + 4H2O
8HNO3 + 3Cu → 3 Cu(NO3)2 + 2NO + 4H2O

Logam Cu = 0,1901 gram
Mol = massa : Mr
= 0,1901 : 63,5 = 0,0029
Jumlah HNO3 yang diperlukan :
= 8/3 x 0,0029 = 232/3 x 10-4 = 77,3 x 10-4
Molaritas = mol / volum
4 = 773 x 10-5 / a
4a = 773 x 10-5
a = 773 x 10-5 = 193,25 x 10-5 = 0,0019325 liter = 1,9 ml = 2 ml
4

B. LANGKAH II
Larutan NaOH dihasilkan dari unsur natrium yang bereaksi sangat cepat dengan air dan bersifat sangat eksplosif (mudah meledak). Hal ini disebabkan karena reaksi natrium dengan air mengeluarkan gas H2 dan reaksinya merupakan reaksi eksoterm.NaOH merupakan basa yang paling kuat diantara hidroksida yang lain pada unsur periode ketiga. Berikut adalah reaksinya :
Cu(NO3)2 + 2NaOH → Cu(OH)2 + 2NaNO3
1 : 2 : 1 : 2
Keterangan :
Mol Cu = mol Cu(NO3)2
Cu(NO3)2 = 0,0029 mol
Maka : 2 NaOH = 2 x mol Cu(NO3)2
= 2 x 0,0029 = 0,0058 (0,006 mol)
Dengan 1M NaOH yang ada
Maka volume NaOH yang dibutuhkan untuk dicampurkan kedalam Cu(NO3)2 adalah :
M = mol / volum
1 = 0,006 / v
1v = 0,006
= 0,006 liter = 6 ml (untuk ukuran yang asli)
HNO3 4M = NaOH 1M
V1 x M1 = V2 x M2
2 x 4 = V2 x 1
8 = 1 V2
= 8
Sehingga NaOH yang berlebih adalah 8 + 6 = 14 ml
Karena pada percobaan ini reaksi tidak terjadi sempurna maka ditambahkan kembali larutan NaOH sebanyak 6 ml sehingga : Volume = 8 + 6 + 6 = 20 ml
C. LANGKAH III

Cu(OH)2 CuO + H2O
Dengan hasil :
Cu(OH)2 = berwarna biru pekat dan mengendap
CuO = setelah dipanaskan berwarna hitam pekat dan mengendap
H2O = cairan yang berwarna putih bening

D. LANGKAH IV
Larutan asam sulfat adalah larutan yang berwarna bening. Asam sulfat merupakan bahan baku untuk membuat senyawa – senyawa sulfat. Kegunaannya : elektrolit pada aki kendaraan bermotor, proses pembuatan minyak bumi, pembuatan berbagai produk industri. Pada percobaan keempat ini persamaan reaksinya adalah :
CuO + H2SO4 → CuSO4 + H2O
1 : 1 : 1 : 1
Molaritas H2SO4 = 2N = 1M
Karena jumlah mol Cu = CuO = Cu(NO3)2 maka jumlahnya adalah 0,0029 mol.
n = V x M
V = n : M = 0,0029 : 1 = 0,0029 liter = 0,003 liter = 3 ml
Jadi penambahan H2SO4 ke dalam CuO = 3 ml

E. LANGKAH V
Seng (Zn) merupakan unsur transisi periode keempat. Bilangan oksidasi dari unsur Zn hanya +2, logam Zn memiliki titik leleh cukup rendah dan tidak bersifat katalis. Persamaan reaksinya adalah :
CuSO4 + Zn → ZnSO4 + Cu
Berat Zn = mol x Ar Zn
= 0,0029 x 65,5 = 0,189 gram = 0,2 gram.

F. LANGKAH VI
Untuk mendapatkan Cu kembali maka setelah dilakukan proses dekantasi maka dilanjutkan pengan penimbangan :
Massa kaca arloji = 13,5 gram
Massa kaca arloji yang ditambahkan dengan Cu = 13,7 gram
Maka massa Cu sebenarnya adalah 13,7 – 13,5 = 0,2 gram
Dan perhitungan rendemannya adalah :
x 100% =

VII. KESIMPULAN
A. Dalam percobaan tentang beberapa reaksi kimia dengan menggunakan siklus tembaga (Cu) maka dapat diperoleh kesimpulan tentang beberapa peristiwa yang menandakan berlangsungnya suatu reaksi kimia, yakni :
• Habisnya zat yang bereaksi
• Timbulnya gas
• Terjadinya perubahan warna larutan
• Timbulnya endapan
• Terciumnya bau yang baru

B. Pada perubahan atau reaksi kimia berlaku hukum kekebalan massa yang dikemukakan oleh LAVOISIER yakni massa zat sebelum reaksi sama atau tetap dengan massa sesudah reaksi.
C. Perhitungan zat – zat yang terlibat dalam reaksi menggunakan konsep STOIKIOMETRI.

VIII. DAFTAR PUSTAKA
1. Tim laboratorium Kimia Dasar.2007.Penuntun Praktikum Kimia Dasar I. Jurusan Kimia FMIPA, Universitas Udayana : Bukit Jimbaran, Bali
2. Chang, Raymond.2004. Kimia Dasar : Konsep – konsep Inti Jilid I Edisi Ketiga.Erlangga : Jakarta
3. N. F. Dian.2008. Rumus Kantong Kimia SMP.Pustaka Widyatama : Jakarta
4. Syukri, Unggul.1999.Kimia Dasar I.ITB : Bandung
5. Petrucci, Ralph.H, 1999, “KIMIA DASAR-Prinsip dan Terapan Modern”, Edisi Keempat-Jilid 2, Erlangga: Jakarta.
6. Pudjaatmaka, Buku VOGEL “Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik”, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta





READ MORE - BEBERAPA REAKSI KIMIA TERBARU

volume molar gas

I. TUJUAN :
Menentukan volume relatif dari zat dalam wujud yang berbeda

II. DASAR TEORI :
Benda-benda di alam raya ini dapat digolongkan menjadi tiga golongan, diantaranya:
a. Zat padat
b. Zat cair
c. gas
Gas dapat dimampatkan dalam tempat tertutup, tetapi kalau dia dimasukkan kedalam tempat yang lebih besar dari volume semula, dia dapat mengisi temapt itu secra merata. Dimana gas mempunyai sifat-sifat khusus antara lain:
a. Peka terhadap perubahan temperature
b. Peka terhadap perubahan tekanan
Zat cair dan zat padat mempunyai sifat yang berlainan dengan gas dimana zat cair dan zat padat tidak peka terhadap perubahan tekanan dan sedikit sekali mempunyai kemampuan untuk mengisi temapt secara merata.
Gas melakukan tekanan pada permukaan apapun ketika saling bersentuhan, karena molekul – molekul gas senantiasa dalam keadaan bergerak. Atmosfer yang mengelilingi bumi adalah campuran dari berbagai gas. Tekanan atmosferb (atmospheric preasure) adalah tekanan yang diberikan oleh atmosfer bumi. Nilai sesungguhnya dari tekanan atmosfer tergantung pada letak, suhu, dan reaksi cuaca. Barometer merupakan alat yang paling lazim digunakan untuk mengukur tekanan atmosfer. Definisi mula – mula dari standar atmosfer sama dengan tekanan yang dilakukan kolom air raksa setinggi 760 mmHg pada permukaan air laut dan pada temperature 00C.
1 atm = 760 mmHg
Satuan Internasional (SI) tekanan adalah Pascal (Pa) didefinisikan 1 newton (satuan Internasional untuk gaya) per meter persegi.
1 Pa = 1 N / m2
Definisi standar dalam istilah Pascal 1 atm = 101,325 Pa = 101,329 kPa
Robert Boyle menyelidiki perubahan volume suatu gas pada temparatur tetap dengan tekanan yang berubah-ubah. Dari hasil penyelidikan didapatkan bahwa pada temperature tetap, volume gas akan berubah kalau tekanannya diubah. Dari ketentuan diatas maka dapat dijabarkan dalam persamaan berikut:
= atau = = K (konstan)
Berlainan dengan Boyle maka Charles menyelidiki sifat-sifat gas pada tekanan tetap. Dari hasil-hasil penyelidikannya didapatkan bahwa perbandingan volume gas sesuai dengan perbandingan temperature absolutnya. Bila ketentuan tersebut dijabarkan akan didapatkan persamaan:
1. Pada tekanan (P) dibuat tetap
= atau V1 : T2 = V2 . T1 = K’ (konstan)

= atau P1 : T2 = P2 . T1 = K’ (konstan)

2. Pada Volume (V) dibuat tetap
Yang dimaksud dengan T adalah temperature absolute derajat Kelvin (K). selanjutnya Avogadro menyatakan bahwa gas yang mempunyai volume, tekanan dan temperature yang sama akan berisi jumlah mode yang sama pula.
Dari hukum Avogadro tersebut, dinyatakan bahwa pada temperature dan tekanan yang sama setiap 1 mole gas akan mempunyai volume yang sama. Artinya kalau mole dipakai sebagai satuan kwantitas gas, maka 1 mole setiap gas akan mempunyai persamaan ;

= R atau P.V = R.T

Dalam persamaan ini V adalah volume 1 mole gas. Bila banyaknya mole gas n (≠ 1 mole) dimasukkan dalam persamaan maka persamaan gas akan menjadi:
P.V = n.R.T
Dimana V menyatakan volume dari n mole gas.


III. ALAT DAN BAHAN :
a. Alat-alat
 Gelas ukur
 Ember
 Neraca analitik
 Termometer
 Barometer
b. Bahan-bahan
 Air
 Butana cair (korek api yang bahan bakarnya dari Butana)

IV. LANGKAH KERJA :
1. Siapkan korek api yang bahan bakarnya butane dan dindingnya tebus cahaya. Kemudian timbang korek api tersebut dan perkiraan volum,e dari cairan butane dalam korek api tersebut.




2. Letakkan gelas ukur yang berisi penuh air terbalik diatas ember yang berisi air. Gelas ukur ini nantinya akan berfungsi sebagai alat penampung gas. Siapkan pula sedikitnya 2 gelas ukur lain yang penuh air.



3. Bukalah klep dari korek api dan ikat dengan pipet karet agar klep terbuka terus. Cepat-cepat letakkan korek api tersebut dibawah alat penampung agar gas gas yang dibebaskan tertampung.



4. Bila alat penampung telah penuh tandai dan catat, kemudian diganti dengan alat penampung yang lain. Lanjutkan mengumpulkan gas yang dibebaskan sampai korek api terebut hampir kosong.



5. Tutuplah kembali klep dari korek api tersebut. Catat semua gas butane yang dikumpulkan.



6. Timbanglah kembali korek api tersebut dan perkirakan volume dari cairan butane yang berubah menjadi gas.



7. Hitunglah perbandingan dari volume gas butane dengan volume cairan butane yang massanya sama.

IV. HASIL PENGAMATAN :
• Massa korek gas :
a. Sebelum gasnya dikeluarkan : 15,98 gram
b. Sesudah gasnya dikeluarkan : 15,48 gram
• Berat zat : massa (sebelum – sesudah)
= (15,98 – 15,48) gram = 0,5 gram
• Perkiraan volume korek api sebelum gas dikeluarkan : 3 ml
• Perkiraan volume korek api yang habis : 1,5 ml
• Volume gas : 250 ml
• Volume cairan : 1,5 ml


V. PEMBAHASAN :
Pada praktikum ke V ini yaitu tentang volume molar gas yang bertujuan untuk menentukan volume relatif dari zat dalam wujud yang berbeda, digunakan butane cair, yang di dapat dari korek gas yang bahan bakarnya dari butana. Wujud dari butana yang digunakan adalah : berwujud cair, berwarna bening dan biasanya digunakan untuk bahan bakar diantaranya pengisian tabung gas LPG dan pengisian korek gas.
Jika dilihat dari rumus molekul butana adalah C4H10 yaitu :
= Ar ( C ) . 4 + Ar ( H ) . 10
= (12 . 4) + (1.10)
= 48 + 10
= 58 gram/ mol
Tetapi melalui perhitungan hasil percobaan ini diperoleh Mr butana sebesar , (dengan harga T = 300C) :
Diketahui : m = 15,98 – 15, 48 = 0,5 gram
V = 250 ml = 0,25 liter
P = 1 atm
R = 0,082 liter . atm / mol . K
T = 30 + 273 = 3030K
Ditanya : Mr Butana?
P.V = n . R . T
1atm x 0,25 liter = (0,5 gram : Mr) . 0, 082 liter atm / mol K . 303 K
Mr = 12,423 : 0,25 = 49,692 gram / mol.
Adanya perbedaan nilai Mr yang diperoleh antara teori dengan Mr hasil perhitungan, mungkin karena adanya beberapa factor yang mempengaruhi diantaranya adalah :
a. Perkiraan volume yang kurang mendekati hasilnya
b. Neraca penimbangan yang kurang mendekati hasil maksimal
c. Saat penimbangan kembali, masih terdapat air pada korek gas
d. Klep dari korek gas tidak diikat dengan pipa karet, sehingga kadang – kadang tertutup sebentar karena tangan praktikan kelelehan memegang klep korek gas.
VI. PERTANYAAN :
1. Hitunglah perbandingan volume cairan dengan volume gas :
Jawab :
Vcairan = V gas
1,5 ml = 250 ml

2. Gas yang keluar dari sumber gas ditampung sebanyak 1,30 liter. Berat gas tersebut adalah 2,9 gr. Bila suhu dan tekanan pada kondisi tersebut adalah 27 dan 72 cmHg. Hitunglah massa 1 mol gas tersebut.
Jawab :
Diketahui : V = 1,3 liter
m = 2,9 gram
T = 27 + 273 = 300 K
P = 72 cmHg = 720 mmHg : 760 mmHg = 0,95 atm
R = 0,082 liter atm / mol K
Ditanya : Mr ……..?
P.V = n . R . T

Mr = m . R . T
P. V
Mr = 2,9 gram . 0,082 liter atm / mol K . 300 K
0,95 atm . 1,3 liter
Mr = 57,765 gram / mol. = 58 gram / mol.

VII. KESIMPULAN :
1. Berdasarkan fisiknya zat dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu : padat, cair dan gas
2. Sifat – sifat fisik gas antara lain :
a. Gas mempunyai volume dan bentuk menyerupai wadahnya
b. Gas dapat dimampatkan
c. Jarak antara partikel gas sangat berjauhan
d. Gas peka terhadap perubahan temperatur dan tekanan
e. Gas memiliki tekanan yang sama dalam segala arah
f. Gas bila didinginkan akan mengembun
g. Partikel gas yang bergerak memiliki Ek
3. Persamaan umum dari gas dapat dinyatakan dalam berbagai hukum, antara lain :
a. Hukum Boyle : pada suhu yang tekanan konstan volume gas berbanding terbalik dengan tekanan.
b. Hukum Charles : pada tekanan yang tetap volume gas berbanding lurus dengan suhu mutlaknya.
c. Hukum Gay Lussac : pada volume yang tetap tekanan berbanding lurus dengan suhunya.
d. Hukum Avogadro : pada suhu dan tekanan yang tetap, gas yang bervolume sama mengandung jumlah mol yang sama.

VIII. DAFTAR PUSTAKA :
• Tim laboratorium Kimia Dasar.2007.Penuntun Praktikum Kimia Dasar I. Jurusan Kimia FMIPA, Universitas Udayana : Bukit Jimbaran, Bali
• www.google.com











READ MORE - volume molar gas

BENTUK MOLEKUL

I. TUJUAN PERCOBAAN :
1. Menggambarkan bentuk molekul dalam tiga dimensi
2. Memberikan gambaran tentang setereo kimia

II. LANDASAN TEORI :
Dalam menggambarkan bentuk molekul senyawa kimia sering kali kita menemui kesulitan karena bentuk senyawa kimia berkembang dalam tiga dimensi. Terlebih lagi untuk senyawa – senyawa rantai karbon, baik rantai karbon lurus ataupun rantai lingkaran. Untuk mengatasi hal di atas dapat kita gunakan suatu model.
Hal yang perlu diperhatikan dalam penyususnan bentuk molekul antara lain valensi adri atom penyusunan molekul yang bentuk geometri dari masing – masing atom. Valensi dalam hal ini menunjukkan jumlah ikatan yang dapat dibentuk oleh atom bersangkutan. Bentuk geometri atom yang satu berbeda dengan atom yang lain karena perbedaan struktur elektoniknya, seperti misalnya atom C mempunyai pusat geometri yang tetrahedral, B dalam BF3 pusat geometrinya trigonal. Dalam penyusunan bentuk molekul akan digunakan pusat atom, yang warna dan bentuk geometriknya berbeda dengan pipa – pipa plastik yang menggambarkan ikatan, sering kali plastik yang digunakan untuk ikatan dapat pula menggambarkan atom. Dalam penyusunan bentuk molekul hanya tersedia beberapa pusat yang liner, trigonal planar, trogonal bipiramid dan oktahedral.
Untuk ikatan yang akan digunakan panjang pipa plastik yang standar adalah panjang 3,5 cm untuk ikatan C-C, C=C, C-O, C=O dan C-N sedangkan yang panjangnya 2 cm untuk menunjukan ikatan C-H. Ikatan tunggal C-C dapat mengalami rotasi sehingga kedudukan atom lain yang terikat pada karbon posisinya akan bervariasi atau akan terdapat berbagai konformasi.
Pada senyawa CH3-CH3 akan didapatkan dua konformasi yang ekstrim yaitu konformasi eklip dan konformasi stagger. Konformasi eklip adalah kedudukan dimana atom hidrogen pada atom yang didepan tepat didepan hidrogen pada atom yang dibelakang. Sedangkan pada konformasi stagger, hidrogen pada karbon yang satu terletak diantara kedua hidrogen pada hidrogen lain.
Terdapat beberapa cara untuk menyatakan konformasi diantaranya cara sawhorse, cara dimensional dan cara newton.








SAWHORSE






DIMENSIONAL







NEWMANN
Bentuk geometri molekul adalah cara – cara atom penataan tiga dimensi dari suatu atom dalam molekul. Beberapa sifat fisik dan sifat kimia, seperti titik leleh, titik didih, densitas dan jenis reaksi yang molekul alami dipengaruhi oleh geometri molekulnya. Namun, struktur Lewis tidak dapat menentukan bentuk molekul sehingga diperlukan teori lain untuk menjelaskan bentuk molekul ada dua cara yang umum dipakai untuk menentukan geometri molekuler, khususnya senyawa kovalen, yakni

TEORI VSEPR
Teori unsur yang saling berikatan memiliki bentuk molekul berbeda – beda tergantung jumlah pasangan elektron yang terlibat. Bentuk molekul dipengaruhi oleh susunan ruang pasangan elektron ikatan (PEI) dan pasangan elektron bebas (PEB) pada atom pusat suatu molekul. Teori Domain elektron menyatakan bahwa “pasangan elektron ikatan dan pasangan elektron bebas saling tolak menolak sehingga tiap pasangan elektron cenderung berjauhan satu sama lain untuk meminimalkan gaya tolakan tersebut”. Teori ini juga disebut terori VSEPR (valence shell electron pair repulsion) atau teori tolakan pasangan elektron valensi. Teori ini pertama kalli dikembangkan oleh ahli kimia Kanada, R.J Gilespie (1957) berdasarkan ide ahli kimia Inggris , N. Sigdwick dan H. Powell. Teori Domain Elektron menggambarkan arah pasangan elektron baik PEI maupun PEB terhadap inti atom urutan berdasarkan besarnya gaya tolakan pasangan elektron adalah PEB – PEB > PEB – PEI > PEI – PEI.
Domain elektron yang berupa pasangan elektron ikatan (PEI) baik ikatan tunggal, ikatan rangkap, maupun ikatan rangkap 3 dianggap sebagai 1 domain. Berdasarkan teori Domain Elektron terdapat 5 macam bentuk dasar molekul kovalen yaitu linier, segitiga datar, tetrahedral, trogonal bipiramida, dan oktahedral.
Bentuk molekul senyawa kovalen ditentukan eleh susunan ruang pasangan elektron disekitar atom pusat. Teori Domain Elektron memfokuskan perhatian pada area terdapatnya elektron, sehingga ikatan rangkap dianggap satu area elektron atau sekelompok elektron sebagai mana pada ikatan tunggal.Gagasan ini diterapkan terhadap struktur Lewis molekul COCl2 :
Cl Cl
C O atau C = O
Cl Cl
Oleh karena ikatan rangkap merupakan sekelompok elektron sebagaimana pada ikatan tunggal maka bentuk geometri COCl2 adalah segitiga datar.
Cl
C = O
Cl
Jumlah
Domain Orientasi
Domain Jumlah pasangan elektron Bentuk Molekul Contoh Notasi
VSEPR
Ikatan Bebas
2 Linier 2 - Linier
BeCl2 AX2
3 Segitiga 3




2 1




1

Segitiga Datar

Bangkokan
BeCl3




SO2 AX3




AX2E
4 Tetrahedral 4



3



2 -



1



2 Tetrahedral

Trigonal Piramida

Bangkokan
CH4



NH3



H2O AX4



AX3E



AX2E2
5 Trigonal Bipiramida 5



4



3




2
-



1



2




3 Trigonal Bipiramida

Tetrahedral Beraturan

Bentuk T

Linier







PCl5



FeCl4



ClF3




XeF2 AX5



AX4E



AX3E2




AX2F3
6 Oktahedral 6





5




4 -





1




2 Oktahedral

Piramida segi empat

Segi empat datar
SF6





IF5




XeF2 AX6





AX5E




AX4E2
Kelima bentuk dasar molekul kovalen hanya menggambarkan bentuk geometri domain elektron yang mengandung PEI. Namun, dalam teori VSEPR, gaya tolakan yang dihasilkan oleh pasangan elektron bebas berpengaruh terhadap bentuk molekul. Berdasarkan teori VSEPR, setiap molekul diberikan notasi khusus untuk menunjukkan jumlah PEI dan PEB molekul tersebut, notasinya sebagai berikut :
PEI PEB

Atom Pusat AXnEn
Bilangan Bulat


KETERANGAN :
LINEAR : Disusun oleh tiga atom yang berikatan dalam satu garis lurus dan sebuah atom menjadi atom pusatnya. Jadi, terdapat 2 pasang elektron ikatab (2 domain) dengan sudut ikat 1800C.
SEGITIGA DATAR : Segitiga sama sisi yang disusun oleh 4 buah atom. Sebuah atom sebagai pusat yang berikatan dengan 3 atom lainnya dengan sudut ikat sebesar 1200C. Jadi, terdapat 3 pasang elektron ikatan (3 domain).
TETRAHEDRAL : Bentuk piramida. Ada 4 permukaan segitiga dan 4 sudut.
TRIGONAL BIPIRAMIDA : Terdiri dari dua piramida yang mempunyai 3 sisi yang dihubungkan oleh satu permukaan bersama suatu bidang segitiga yang melalui pusat,
OKTAHEDRAL : Gambar/ bentuk yang mempunyai delapan sisi dengan enam sudut. Gambar ini terdiri dari 2 piramida segiempat yang mempunyai satu dasar segiempat bersama.


III. ALAT :
1. Model Pusat Atom
2. Pipa – pipa Plastik

IV. LANGKAH KERJA :
1. Susunlah model molekul berikut :
a) HCl :
Ambilah suatu pusat atom untuk inti hidrogen dan pusat untuk inti klor hubungkan dengan pipa plastik untuk menunjukkan ikatan.


b) BeCl2 :
Bentuk molekulnya linier dalam wujud gas. Gunakan pusat atom yang cabangnya linier sebagai Be.
Dua buah pipa plastik dimasukkan pada cabang ini sebagai ikatan kemudian hubungkan dengan inti Cl.



c) BF3 :
Bentuk molekulnya segitiga datar, semua ikatan adalah equivalen dengan sudut FBF besarnya 1200C. Gunakan sebagai pusat atomnya bentuk seperti gambar (1b).


d) CH4, NH3 dan H2O
Pada penyusunan molekul – molekul diatas digunakan model yang bentuk dasarnya tetrahedral.
CH4 bentuknya tetrahedral gunakan pusat atom yang cabangnya tetrahedral. Pada NH3 terdapat 3 ikatan antara N dengan H dan 1 pasang elektron bebas. Bagian NH3 mempunyai bentuk piramid, dan pasangan elektron bebasnya akan menempati bagian yang keempat dari posisi tetrahedral.
Pada H2O terdapat 2 pasang elektron bebas dan dua pasang elektron ikatan


CH4 NH3 H2O

e) [PtCl4]2-
Ion yang bentuknya segiempat datar semua ikatannya sama dengan ikatan klor terletak pada sudut segiempatnya Pt pada pusat.


f) PF5
Gunakan bentuk trigonal bipiramid.
Terdapat tida ikatan equivalen dan dua ikatan yang aksial.

2. Buatlah bentuk molekul etana (C2H6) gunakan dua pusat inti yang tetrahedral hubungan kedua inti C dengan pipa plastik.
Aturlah kedudukan hidrogen dengan jalan memutar ikatan C-C, agar didapatkan kedudukan dimana H pada atom C yang satu tepat dibelakang H atau C yang lain dan kedudukan lainnya dimana atom H pada atom yang satu tepat diantara kedua atom H pada C yang lain.



3. Hidro Karbon Siklik
Susunlah molekul sikloheksana C6H12 aturlah kedudukan rantai karbonnya agar didapatkan bentuk seperti kapal dan bentuk seperti kursi.

4. Benzena
C6H6 mempunyai bentuk heksagonal datar. Panjang ikatan C-C semuanya sama dengan sudut C-C-C adalah 120 :
Dalam penyusunan benzena gunakan pusat atom yang trigonal.
Lingkaran yang didalam menunjukkan delokalisasi enam elektron dalam orbital p yang saling berintikan. Struktur diatas dapat dianggap sebagai keadaan rata – rata dari 2 bentuk benzena kekule.

5. Isomer optik
Isomer optik mempunyai struktur dimana bayangan cerminnya tidak saling menutupi salah satu sama lain. Hubungan yang sama seperti tangan kanan dan tangan kiri. Disebut isomer optik karena dia bersifat optik aktif sehingga dia memiliki kemampuan untuk memutar bidang polarisasi dari sinar yang terpolarisasi.
Untuk pusat karbon yang tetrahedral molekulnya bersifat optik aktif bila tidak memiliki pusat simetri. Atom ini disebut asimetri atau chiral dalam hal ini karbon mengikat 4 gugus yang berbeda.
Untuk mendapatkan gambar ini disusun bentuk molekul CH2, Cl2, CH2ClBr dan CHFBrCl.









V. HASIL PENGAMATAN :
1. a.) HCl
Bentuk molekulnya linier.
b) BeCl2
Bentuk molekulnya linier, dimana Be sebagai atom pusat dan Cl sebagai atom terminal tersusun berikatan dalam satu garis lurus, sudut ikat yang terbentuk 1800C.
c) BF3
Bentuk molekulnya segitiga datar dengan sudut ikat yang terbentuk 1200C. Yang berperan sebagai atom pusat adalah B dan F sebagai atom terminal.
d) - CH4
Bentuk molekulnya adalah tetrahedral dengan sudut ikat 109,50C. Berperan sebagai atom pusat dan atom H sebagai atom terminal.
- NH3
Bentuk molekulnya trigonal piramida. Atom pusatnya adalah N dan atom terminal adalah H.
- H2O
Bentuk molekulnya adalah bengkokan, atom O sebagai atom pusat dan atom H sebagai atom terminal.
e) [PtCl4]2-
Bentuk molekulnya segiempat datar. Atom Pt sebagai atom pusat dan atom Cl sebagai atom terminal.
f) PF5
Bentuk molekulnya trigonal bipiramida. Atom P sebagai atom pusat dan F sebagai atom terminal.
2. C2H6
Molekul C2H6 terdiri dari 2 pusat inti yaitu CH3 – CH3. Maka akan diketahui bentuk molekulnya yaitu tetrahedral.
3. Hidrokarbon Siklik
Setelah bentuk dasarnya dipecah yang tadinya berupa segienam, akan diperoleh bentuk molekul yang tetrahedral. kedudukan rantai karbon C sikloheksana dapat diubah – ubah sehingga menghasilkan bentuk seperti kapak / biduk dan seperti kursi.
4. Benzena
Mempunyai bentuk heksagonal datar. Panjang ikatan C – C semuanya sama dengan sudut C – C - C adalah 1200C.
5. Isomer Optik
a. CH2Cl2 :
• Mempunyai bidang simetris
• Bayangan cernrminnya dapat saling menutupi
• Tidak optik aktif
b. CH2ClBr :
• Mempunyai bidang simetri
• Bayangan cerminnya dapat saling menutupi
• Tidak optik aktif
c. CHFClBr :
• Tidak mempunyai bidang simetri


VI. PEMBAHASAN :
Jawaban pertanyaan :
1. Dalam wujud cair HCl akan terurai menjadi H+ dan Cl-
H Cl DALAM AIR H + Cl -
H Cl H Cl
Ikatan yang terjadi adalah ikatan kovalen polar. Ikatan kovalen pada molekul HCl terjadi karena adanya pemakaian pasangan elektron bersama sedangkan kepolaran ikatan dalam HCl terjadi karena perbedaan keelektronegatifan atom – atom yang berikatan.
Meskipun atom H dan atom Cl sama – sama menarik pasangan elektron, namun atom Cl menarik pasangan elektron lebih kuat dibandingkan dengan atom H karena keelektronegatifan Cl lebih besar dari keelektronegatifan H, sehingga pasangan elektron ikatan akan tertarik ke arah klorin (terpusatkan pada klorin) . akibatnya terjadi kutub positif pada hidrogen atau membentuk ikatan dipol.
2. Susunan elektron Lewis dari senyawa BF3
• Atom pusat : B
• Atom terminal : 3F
• Jumlah elektron : 3 + 3.7 = 24
Struktur :
F F
F B F B
F F
BF3 tidak mengikuti aturan oktet karena jumlah elektron pada kulit terluar B hanya terdiri dari 6 elektron dan bukannya 8 elektron. Agar stabil, BF3 nantinya akan menyumbangkan tempat kosong, sedangkan senyawa lain menyumbangkan pasangan elektron bebas untuk dipakai bersama – sama.
Bentuk BF3 trigonal datar karena mempunyai tiga pasang elektron pada atom pusatnya dan terdiri dari 4 atom dimana tempat atom itu berada pada stu bidang datar terjadinya kesamaan dari sudut ikatan ini disebabkan oleh gaya tolak – menolak antara pasangan elektron ikatan yang sama.

3. Terjadinya perbedaan pada CH4 dengan NH3 dan H2O karena ketiganya memiliki jumlah pasangan elektron mandiri yang berbeda – beda.
• CH4
Yang terjadi pada ikatan ini adalah ikatan kovalen non polar karena tidak ada pasangan elektron mandiri sehingga molekul yang dibentuk adalah simetris, dimana pasangan elektron yang dipakai sama – sama tertarik sama kuat ke semua atom sehingga membentuk sudut yang sama yaitu 109,50 dengan bentuk molekul tetrahedral.



• NH3
Yang terjadi pada senyawa ini adalah ikatan kovalen polar karena NH3 terdapat sebuah pasangan elektron mandiri yang menyebabkan terjadinya perubahan sudut ikatan dan perubahan bentuk ikatan pasangan elektron atom N menekan atom H ke bawah. Hal ini disebabkan oleh gaya tolakan yang dialami oleh pasangan elektron mandiri dengan atom H lebih besar daripada atom antara atom H dengan atom H. Sehingga terbentuk molekul segitiga bipiramida dengan sudut ikatnya 1070. HHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH


• H2O
Pada H2O terjadi ikatan kovalen polar karena pada H2O terdapat dua pasangan elektron mandiri. Pasangan elektron mandiri menyebabkan terjadinya perubahan sudut ikatan dan perubahan bentuk molekul pula, seperti pada NH3 karena tolak – menolak antara pasangan elektron mandiri dengan pasangan elektron mandiri sangat besar, maka pasangan elektron mandiri pada atom pusat O menekan atom H sedangkan gaya tolak – menolak antara pasangan elektron mandiri dengan atom H lebih lemah dan antara atom H dengan atom H paling lemah sehingga jarak antara atom H dengan atom H paling dekat karena dari atom lain. Bentuk molekulnya adalah bengkokan dengan sudut ikatnya 1040.



Jadi, sudut ikat yang paling besar adalah CH4 yaitu sebesar 109,50 dan yang paling kecil adalah pada H2O yaitu sebesar 1040.

4. Bilangan oksidasi Pt dalam [PtCl4]-2 adalah :
Biloks Pt + 4 biloks Cl = -2
Biloks Pt + 4(-1) = -2
Biloks Pt = -2 + 4 = 2
Ikatan antara Pt dan Cl adalah ikatan kovalen koordinasi karena adanya pemakaian bersama pasangan elektron dari Cl karena pada Pt terdapat pasangan elektron bebas dan atom Cl mempunyai orbital kosong.
Bentuk [PtCl4]-2 berupa segiempat datar karena pada atom pusat Pt terdapat 4 atom yang berikatan dengan Cl dan 2 atom bebas. Terbentuknya segiempat datar karena juga agar memperoleh bentuk yang paling stabil.

5. Pada senyawa PF5 tidak terdapat pasangan elektron bebas disekitar atom P.
Struktur Lewis :
• Atom pusat : P
• Atom terminal : 5 atom F
• Jumlah elektron : 5 + 5. 7 = 40
F
P + 5 F F P F
F F

Berdasarkan struktur tersebut terlihat bahwa senyawa PF5 menyimpang dari aturan oktet karena pada senyawa ini pasangan elektron yang digunakan bersama – sama lebih dari delapan tetapi hal ini tidak disalahkan karena PF5 termasuk oktet yang diperluas.
PF5 berbentuk trigonal bipiramida karena pada atom pusat P terdapat 5 atom terminal F. Ikatan yang terjadi adalah ikatan kovalen karena hanya terdapat penggunaan bersama pasangan elektron oleh dua atom yang berikatan saja.

6. Untuk mendapatkan bentuk molekul dari C2H6, kita harus memecahkan menjadi CH3 – CH3. Pada senyawa CH3 yang terikat dengan CH3 lain terlihat ada 3 atom hidrogen yang terikat dengan atom C dan satu tangan karbon lainnya terikat dengan atom C lainnya. Berarti ada 4 atom terminal yang terikat pada atom C, sehingga bentuk molekul C2H6 adalah tetrahedral.
Ganbar molekul 1,2 diklor etana : Gambar molekul 1,2 diklor etena :
H H H H

H C C H C C

Cl Cl Cl Cl

7. Isomer optik mempunyai struktur dimana bayangan cerminnya tidak saling menutupi salah satu sama lain. Hubungan yang sama seperti tangan kanan dan kiri disebut isomer optik, karena sia bersifat optif aktif sehingga dia memiliki kemampuan untuk memutar bidang polarisasi dari sinar yang terpolarisasi.
Untuk pusat karbon yang tetrahedral molekulnya bersifat optik aktif bila tidak memiliki pusat simetri atau bidang simetri atom ini disebut asimetri atau chival. Dalam hal ini karbon mengikat 4 gugus yang berbeda. Dari senyaw – senyawa yang dibutuhkan. Dari senyawa – senyawa yang diberikan yaitu CH2Cl2, CH2ClBr dan CHFClBr, maka : jm
• Senyawa yang mempunyai bidang simetri adalah CH2Cl2 dan CH2ClBr
H Cl
Cl C Cl H C H
H Brjjjjjjjj
• Senyawa yang bersifat optik aktif adalah CHFClBr
H
Cl C F
Br
• Senyawa yang bayangan cerminnya saling menutupi adalah CH2ClBr, maka :
A A’
Cl Cl

H C C H
H H
Br Br
Apabila keduanya diputar 900 ke kiri :
A A’
C C
H H
H Br H Br
Apabila disusun didepan – dibelakang akan dapat saling menutupi.
8. Molekul etana (C2H6)
Bentuk molekul ini menyajikan susunan atom – atom molekul dalam ruang. 2 atom c dalam etana terhibridisasi sp3 atom – atom tersebut terikat melalui ikatan sigma. Ikatan sigma mempunyai simetri berbentuk silinder yaitu tumpang tindih orbital. Orbital sp3 adalah sama. Terlepas dari adanya rotasi ikatan C-C, namun rotasi ikatan ini tidak sepenuhnya bebas karena ada interaksi antara atom H pada atom C yang berbeda. Susunan model molekul seperti gambar pada hasil pengamatan pasangan molekul etana dan proyeksi Nowman dari konformasi terbuka dan konformasi gerhana.
H
H H


H H
H

Pada konformasi terbuka sudutnya adalah sebesar 600 sedangkan pada konformasi gerhana sudutnya adalah sebesar 00. Ikatan C-C diputar sedikit dalam proyeksi NEWMAN dengan bentuk gerhana agar atom H yang berpusat pada atom C belakang dapat terlihat. Atom – atom yang berdekatan pada kedua atom C dalam bentuk gerhana menyebabkan tolak – menolak yang lebih besar dan karena itu menyebabkan ketidakstabilan relatif terhadap konformasi terbuka. Tetapi analitis baru – baru ini menunjukkan bahwa keadaannya lebih rumit daripada hanya sekedar tolakan. Walaupun demikian kita tetap menganggap bahwa konformasi terbuka lebih stabil dibandingkan konformasi gerhana.




VII. KESIMPULAN :
Untuk menggambarkan bentuk molekul dapat menggunakan 2 metode, yaitu :
1. Berdasarkan teori VSEPR yakni menjelaskan susunan geometri berdasarkan tolakan pasangan elektron kulit valensi.
2. Berdasarkan konsep hibridisasi (distribusi orbital atom pusat)
Pada metode VSEPR tolak – menolak pada pasangan elektron bebas dengan pasangan elektron bebas > dari pasangan elektron bebas dengan pasangan elektron ikatan > pasangan elektron ikatan dengan pasangan elektron ikatan.
Bentuk Geometri molekul mempengaruhi sifat kimia dan sifat fisika seperti titik didih, titik leleh, kerapatan dan jenis reaksinya.


Tabel susunan pasangan elektron, bentuk molekul dan hibridisasinya adalah :
Senyawa Pasangan Elektron Susunan
Elektron Bentuk
Molekul Hibridisasi
Atom Pusat
Ikatan Non-ikatan Jumlah
BeCl2 2 0 2 Linear Linear SP
BF3 3 0 3 Segitiga Segitiga SP2
CH4 4 0 4 Tetrahedral Tetrahedral SP3
NH3 3 1 4 Tetrahedral Piramida SP3
H2O 2 2 4 Tetrahedral Bengkokan SP3
PF5 5 0 5 Trigonal Bipiramida Trigonal Bipiramida SP3d
[PtCl4]2- 4 2 6 Oktahedral Segiempat Datar SP3d2


VIII. DAFTAR PUSTAKA :
• Tim laboratorium Kimia Dasar.2007.Penuntun Praktikum Kimia Dasar I. Jurusan Kimia FMIPA, Universitas Udayana : Bukit Jimbaran, Bali
• Achamad, Hiskia dan M. S. Tupamahu. 1992. Struktur Atom Struktur Molekul Sistem Periodik .PT. Citra Aditya:Bali










READ MORE - BENTUK MOLEKUL

TEKNOLOGI PERALATAN YANG DIHASILKAN MANUSIA PURBA

Sunday, November 22, 2009

BAB I
PENDAHULUAN
Tahap kehidupan bermukim dan berladang merupakan masa bercocok tanam tahap awal. Kehidupan manusia purba pada masa ini mengalami perkembangan. Secara berangsur-angsur mereka meninggalkan masa berburu dan berpindah-pindah dan mereka mulai hidup menetap dengan mendirikan tempat pemukiman atau membuat rumah-rumah. Untuk menjaga keamanan maka mereka tinggal bersama dalam satu rumah dan hidup secara mengelompok. Sesudah mendirikan pemukiman, mereka tidak lagi mencari dan mengumpulkan makanan, mereka sudah mulai belajar menanam tanaman yang diperlukan, melakuakan bercocok tanam daerah ladang- ladang bekas hutan.
Dalam melakuakan cocok tanam, pada tahap awal sangat sederhana. Disamping itu mereka juga masih tergantung pada alam, mereka berpindah tempat bila ladang yang ditanami sudah tidak subur lagi. mereka mendapatkan ladang yang subur dengan cara membuka hutan yang baru, Di samping bercocok tanam juga melakuakan berburu
Masa bercocok tanam di Indonesia dimulai kira-kira bersamaan dengan berkembangnya kemahiran mengenal tradisi mengupam ( mengasah ) alat-alat dari batu. Alat-alat yang pada umumnya diupam ( diasah) ialah beliung dan kapak dari batu. Di beberapa tempat mata panah dan mata tombak juga diupam. Beliung dan kapak batu ditemukan tersebar di seluruh Kepulauan Indonesia. Dalam masa bermukim dan berladang dibuat pula alat-alat seperti mata panah yang dipergunakan sebagai alat berburuh, gerabah sebagai peralatan hidup maupun alat-alat pemukul kulit kayu dan perhiasan.

BAB II
PEMBAHASAN
Pada tahap kehidupan bercocok tanam di persawahan mereka sudah mengenal cara percocok tanam secara teratur. Mereka sudah mengenal sistim pengairan secara sederhana. Disamping bertani mereka juga sering memelihara ternak sebagai usaha sampingan. Mereka memelihara ternak juga untuk membantu dalam mengelolah tanah di persawahan yaitu untuk membajak tanah persawahan. Dalam kehidupan budaya, pada tahap kehidupan bercocok tanam di persawahan manusia sudah mengenal berbagai peralatan hidup. Lebih-lebih pada masa pertukangan manusia sudah mempunyai kebudayaan yang lebih maju. Di antara hasil-hasil budaya tahap kehidupan bercocok tanam pada saat itu adalah :
a. Kapak Perunggu
Mula-mula kapak perunggu bentuknya tidak berbeda dengan kapak batu. Bahkan sering terdapat tanda-tanda bahwa orang memang sengaja membuat alat-alat perunggu tersebut dengan bentuk alat-alat dari batu. Hal ini merupakan kebiasaan manusia yang sulit ditinggalkan. Namun lambat laun bentuk kapak perunggu mengalami perubahan, karena benda perunggu dapat dilebur dan mudah dicetak maka bentuk kapak-kapak perunggupun bermacam-macam jenisnya. Dianatara terdapat jenis kapak sepatu atau kapak corong karena bentuk seperti sepatu. Dan bagian atas kapak berbentuk corong sebagai tempat untuk tangkai kayu yang menyiku kepada bidang datar, maka disebut kapak corong. Jenis kapak sepatu atau kapak corong ini ditemukan di Sumatra, Jawa, Bali, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan sekitar Danau Sentani di Irian Jaya.

b. Nekara dan Moko
Nekara perunggu ialah semacam tambur besar yang terbentuk seperti dandang yang terbalik atau ditelungkupkan. Nekara ditemukan antara lain di Sumatra, Jawa, Bali, Pulau Sangean dekat Sumbawa, Roti, Leti, Selayar, Kepulauan Kei, dan Irian. Nekara berukuran kecil disebut moko atau mako oleh orang Alor dan Kendang perunggu oleh penduduk Pulau Pantar. Sampai abad ke-20 moko ini masih dibuat orang di Gersik (Jawa Timur). Dari sana dibawah oleh pedagang Bugis ke daerahnya. Kemudian terus disebarkan ke daerah-daerah Flores dan Kepulauan Solor. Nekara yang ditemukan di Indonesia jarang diketemukan dalam keadaan utuh, melainkan nekara-nekara tersebut dalam keadaan rusak, bahkan banyak yang berupa pecahan- pecahan belaka.
c. Bejana Perunggu
Bejana perunggu ini berbentuk bulat seperti keranjang untuk tempat ikan, diikatkan kalau orang mencari ikan. Bejana ini dibuat dari dua buah lempengan perunggu yang cembung dilekatkan dengan catuk besi di sisi-sisinya. Bejana ini ada yang polos dan ada yang dihias dengan pola huruf atau anyaman
` d. Perhiasan Perunggu
Banyak perhiasan dari perunggu yang telah ditemukan, misalnya gelangan tangan, gelang kaki, cincin, kalung dan bandulnya. Umumnya benda-benda itu tidak diberi pola hias. Daerah penemuannya adalah Bogor, Malang, Bali, dan Sumatra Selatan.


e. Arca Perunggu
Bentuk arca (patung) bermacam-macam ada yang berbentuk orang dan ada yang berbentuk binatang, misalnya bentuk orang sedang menari, berdiri, naik kuda, memegang panah. Daerah penemuannya Bangkinang (Riau), Lumajang, dan Bogor
Kehidupan bercocok tanam dipersawahan adalah merupakan tahap kehidupan bercocok tanam tingkat lanjut. Pada masa ini orang sudah mengenal berbagai alat yang terbuat dari batu dan tulang. Peralatan yang dibuat sudah halus dan lebih baik dari peralatan pada masa sebelumnya. Di samping itu dalam perkembangan selanjutnya mereka juga mengembangkan peralatan hidup yang terbuat dari perunggu dan besi
Benda dari besi maupun perunggu ini bias dilebur dengan api sehingga mereka dapat membuat dalam berbagai bentuk. Mereka dapat membuat alat-alat yang lebih bagus dan banyak kegunaannya. Jika benda dan perunggu dikenal di Indonesia ialah : nekara, bermacam-macam kapak, bejana, boneka-boneka atau arca-arca, perhiasan, dan senjata-enjata. Kadang-kadang ada benda yang dibuat sangat bagus sekali sehingga tidak dipergunakan sebagai alat keperluan sehari-hari tetapi di simpan sebagai benda pusaka.
Alat-alat pada zaman purba dapat memberikan petunjuk bagaimana cara manusia purba hidup. Mereka hidup dari berburu dan mengumpulkan bahan makanan (meramu) sehingga alat- alat utmanya adalah alat berburu. Alat-alat tersebut mereka gunakan untuk memotong-motong daging dan tulang-tulang dari binatang buruan yang mereka peroleh. Disamping itu mereka juga membutuhkan alat-alat untuk mengeluarkan umbi-umbi dari dalam tanah.
Pada zaman itu juga manusia purba sudah menggunakan api. Api tersebut diperoleh dengan membenturkan sebuah batu dengan batu yang disebut batu api, sehingga menimbulkan percikan api. Percikan api tersebut digunakan untuk membakar bahan yang mudah terbakar seperti lumut kering, sabut kelapa kering, dan sebagainya, sehingga menimbulkan bara api yang cukup besar.
Dari temuan-temuan yang ada, dapat diketahui bahwa kemampuan manusia purba sangat terbatas. Pikiran mereka sederhana dan mereka dapat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya bahan yang disediakan oleh alam. Mereka belum mampu membuat peralatan seperti sekarang ini. Mereka membuat peralatan hidup dari batu, kayu, dan tulang. Cara pembuatan juga sederhana sekali
Pada tingkatan permulaan, cara pembuat peralatan ditunjuk pada kegunaannya kemudian, baru ditingkatkan cara pembuatannya. Karena peralatan manusia purba pada waktu itu kebanyakan terbuat dari batu, maka zaman itu disebut zaman batu.
Di anatara alat-alat dari batu yang pernah ditemukan adalah: kapak perimbas, kapak penetak, kapak genggam, serpih bilah, dan lain-lain. Dari temuan tersebut yang paling menonjol adalah kapak-kapak perimbas. Kapak perimbas tersebar luas di tanah air kita. Pembuat alat-alat dari batu yang masih kasar tersebut diduga adalah manusia jenis Pithecanthropus dan kebudayaannya disebut tradisi Paleolihikum (batu tua). Alat-alat tersebut banyak ditemukan di Kali Basoka, daerah Punung Kabupaten pacitan (Jawa Timur) yang kemudian disebut budaya Pacitan.
Adapun juga jenis alat-alat dari batu yang digunakan manusia pada tahap kehidupan bermukim dan berladang akan jelas berikut ini :

1. Beliung Persegi
Dianatara alat-alat batu yang paling menonjol dari masa ini di Indonesia ialah beliung persegi. Beliung persegi ini bentuknya hampir seperti pacul, namun tidaklah selebar dan sebesar pacul zaman sekarang. Beliung itu dipergunakan untuk mengerjakan kayu, misalnya pada waktu membuat rumah atau perahu.Beliung persegi ini ditemukan hampir diseluruh kepulauan Indonesia. Beliung persegi ini terbuat dari batu api (Chalcedon) dan pembuatannya sudah diasah.
2. Kapak Lonjong
Penampang lintangnya berbentuk lonjong, bentuk keseluruhan bulat telur. Ujung yang agak lancip dikaitkan ditangkai, ujung yang bulat diasah sampai tajam. Bahan yang dipergunakan adalah batu kali yang berwarna kehitaman seperti kapak-kapak batu yang sampai saat ini masih dipergunakan di Irian. Kapak ini juga dibuat dari jenis batu nefrit yang berwarna hijau tua yang diperoleh dari segumpal batu yang diserpih atau dari karakal yang sudah sesuai bentuknya. Setelah permukaan batu itu diratakan, kemudian diasah sampai halus.
Kapak lonjong mempunyai ukuran bermcam-macam. Kapak lonjong kecil mungkin berguna sebagai wasiat. Di antara kapak-kapak lonjong itu ada juga yang hanya dipergunakan untuk keperluan upacara saja. Bahan batunya lebih bagus daripada bahan untuk perkakas biasa. Cara pembuatannya jauh lebih halus pula. Daerah penemuan kapak lonjong di Indonesia hanya terbatas di daerah bagian timur saja. Sedangkan di daerah lain sampai sekarang tidak ditemukan.
3. Mata Panah
Pada kehidupan bermukim dan berladang manusia purba juga masih melakukan perburuan. Untuk melakukan berburu mereka membuat mata panah dari batu. Ada dua tempat penemuan yang penting di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.
4. Tembikar (Gerabah)
Pada tahap kehidupan bermukim dan berladang manusia sudah mengenal gerabah sebagai peralatan hidup. Namun cara atau teknik pembuatan gerabah pada masa bercocok tanam tingkat awal saat itu masih sangat sederhana. Pembuatan gerabah pada saat itu dikerjakan dengan tangan. Sedangkan penggunaan roda landasan yang berputar (pelarikan) belum banyak bukti-bukti yang mendukung penggunaan alat tersebut pada masa itu.
5. Perhiasan
Dalam masa bercocok tanam tingkat awal, perhiasan berupa gelang dari batu, dan kerang rupa-rupanya sudah dikenal. Untuk membuat gelang ini, maka pertama-tama bahan batu dipukul-pukul sehingga diperoleh bentuk-bentuk yang bulat gepeng. Dengan jalan menggosok dan mengasah maka diperolehnya yang dikehendaki. Bahan gelang itu terdiri atas batu pilihan seperti batu agat, kalsedon, dan yasper yang berwarna putih, kuning, cokelat, merah, dan hijau. Selain gelang dari batu juga ditemukan juga ditemukan kalung dari batu akik. Perhiasan-perhiasan seperti itu pada umumnya ditemukan di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Alat–alat pada zaman purba dapat memberikan petunjuk bagaimana cara manusia purba hidup. Mereka hidup dari berburu dan mengumpulkan bahan makanan (meramu) sehingga alat-alat utamanya adalah alat keperluan untuk berburu.
B. Saran
Dengan dibuatnya makalah ini diharapkan agar para pembaca mengetahui tentang teknologi peralatan yang dihasilkan oleh manusia purba secara rinci dengan memahami berbagai faktor dan aspek serta tujuan dari penggunaan alat – alat teknologi tersebut.









DAFTAR ISI

Judul Halaman

Halaman Judul ...................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... .. iii
I. PENDAHULUAN ............................................................................................
II. PEMBAHASAN ..............................................................................................
III. KESIMPULAN ..............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................









READ MORE - TEKNOLOGI PERALATAN YANG DIHASILKAN MANUSIA PURBA

PKM Pengolahan Limbah Cair Tempe menjadi Pupuk

FORMAT HALAMAN PENGESAHAN
USUL PROGRAM KREATIFITAS MAHASISWA
1. Judul Kegiatan : Cair
2. Bidang Kegiatan : PKMT
3. Bidang Ilmu : MIPA
4. Ketua Pelaksan Kegiatan
a. Nama Lengkap : Fredi Wibowo
b. NIM : 0908105027
c. Jurusan : MIPA/Kimia
d. Universitas : Univ. Udayana
e. Alamat rumah dan No HP : Jalan Goa Gong no 6 Bukit
Jimbaran / 085236008574
f. Alamat email : fredi_36_a1@yahoo.com
5. Anggota Pelaksana Kegiatan : 4 orang
6. Dosen pendamping
a. Nama Lengkap dan Gelar :
b. NIP :
c. Alamat rumah dan No Tel/HP :
7. Biaya Kegiatan total
a. Dikti : Rp. 6.830.000
b. Sumber lain : -
8. Jangka Waktu Pelaksanaan : 5 minggu
Menyetujui
Ketua jurusan/Program Studi Ketua Pelaksana Kegiatan
Pembimbing Unit kegiatan mahasiswa

(__________________) ( Fredi Wibowo )
NIP. NIM. 0908105027

Pembantu atau Wakil Rektor Bidang Dosen Pendamping
Kemahasiswaan/Direktur Politeknik/
Ketua Sekolah Tinggi,


( ) ( )
NIP. NIP
Nama dan Biodata Ketua serta Anggota Kelompok
1. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Fredi Wibowo
b. NIM : 0908105027
c. Fakultas/program Studi : MIPA/ Kimia
d. Perguruan Tinggi : Univ. Udayana
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 5 Minggu
2. Anggota Pelaksana :
1. Nama Lengkap : Juang Hudaya
NIM : 0908605061
Fakultas/program Studi : MIPA/Teknik Informatika
Perguruan Tinggi : Univ. Udayana
Waktu untuk kegiatan PKM : 5 Minggu
2. Nama Lengkap : Alfurqan Basyhari
NIM : 0908205014
Fakultas/program Studi : MIPA/Fisika
Perguruan Tinggi : Univ. Udayana
Waktu untuk kegiatan PKM : 5 Minggu
3. Nama Lengkap : Darmawan Andisaputra
NIM : 0908205015
Fakultas/program Studi : MIPA/Fisika
Perguruan Tinggi : Univ. Udayana
Waktu untuk kegiatan PKM : 5 Minggu






Nama dan biodata Dosen pendamping :
1. Nama Lengkap dan Gelar :
2. Golongan Pangkat dan NIP :
3. Jabatan Fungsional :
4. Jabatan Struktural :
5. Fakultas/Program Studi :
6. Perguruan tinggi :
7. Bidang Keahlian :
8. Waktu Untuk Kegiatan PKM : 5 minggu


















PROGRAM KREATIFITAS MAHASISWA
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR TEMPE MENJADI PUPUK CAIR PRODUKTIF (PCP)

BIDANG KEGIATAN: PKMT

Diusulkan oleh :
Ketua : Fredi Wibowo (0908105027)
Anggota : Juang Hudaya (0908605061)
Alfurqan Basyhari (0908205014)
Darmawan Andisaputra (0908205015)




UNIVERSITAS NEGERI UDAYANA
DENPASAR
2009
I. PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Pengolahan pembuatan tempe akan menghasilkan produk sampingan, yaitu berupa limbah cair tempe. Pembuangan limbah cair tempe dilingkungan akan mengganggu keseimbangan lingkungan, bahkan dapat mencemari lingkungan sekitar. Tentunya hal ini akan berbahaya jika sampai menggenangi selokan atau aliran sungai, karena di sana akan ditumbuhi oleh bakteri-bakteri berpenyakit, meskipun banyak juga bakteri yang bermanfaat. Padahal limbah cair tempe tersebut memiliki kandungan makanan kompleks seperti karbohidrat, protein, dan lemak. Jika dimanfaatkan secara tepat maka akan mengurangi pencemaran lingkungan dan menghilangkan sumber penyakit.
Pemanfaatan yang sederhana untuk bisa kita lakukan adalah dibuat sebagai pupuk cair . Pupuk cair berisi bakteri yang bermanfaat untuk menyuburkan tanah dan tanaman. Peran bakteri bermanfaat dalam pupuk cair ini adalah mengikat nitrogen (N), fosfor (P), Kalium (K) dan unsur lain untuk kebutuhan tanaman, sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanaman. Sedangkan fungsi limbah cair tempe pada pembuatan pupuk cair adalah sebagai sumber makanan bagi bakteri bermanfaat sehingga bakteri tersebut akan memperbanyak diri sebelum pupuk itu digunakan.

2. Rumusan masalah
Banyak limbah cair tempe yang sekarang hanya bisa menjadi kotoran bahkan sampah di perairan yang sangat merugikan padahal apabila dimanfaatkan secara optimal akan sangat menguntungkan dan itu masih jarang orang yang tahu.

3. Tujuan Program
Pengolahan limbah cair tempe menjadi Pupuk Cair Produktif (PCP)
4. Luaran yang Diharapkan
Dapat mengurangi limbah cair yang berada pada kawasan pabrik tempe,juga mengurangi hal yang timbul apabila limbah cair tempe ada.














II. TINJAUAN PUSTAKA

Pada industri tempe, sebagian besar limbah cair yang dihasilkan berasal dari lokasi pemasakan kedelai, pencucian kedelai, peralatan proses dan lantai. Karakter limbah cair yang dihasilkan berupa bahan organik padatan tersuspensi (kulit, selaput lendir dan bahan organik lain) (Darmono, 2001).
Industri pembuatan tahu dan tempe harus berhati-hati dalam program kebersihan pabrik dan pemeliharaan peralatan yang baik karena secara langsung hal tersebut dapat mengurangi kandungan bahan protein dan organik yang terbawa dalam limbah cair. Kunci untuk mengurangi pencemaran adalah mencegah bahan-bahan yang masih bermanfaat terbawa limbah cair. Larutan bekas pemasakan dan perendaman dapat didaur ulang kembali dan digunakan sebagai air pencucian awal kedelai. Perlakuan hati-hati juga dilakukan pada gumpalan tahu yang terbentuk dilakukan seefisien mungkin untuk mencegah protein yang terbawa dalam air dadih (EMDI & BAPEDAL, 1994)










III. METODE PENELITIAN

A. Obyek Penelitian
Obyek penelitian adalah limbah cair tempe
B. Metode Penelitian
Penelitian dilakukan dengan melakukan percobaan 3 kali.
C. Cara Kerja
1. Sebanyak 10 liter limbah cair tempe direbus hingga mendidih menggunakan dandang selama 15-20 menit.
2. Siapkan ember cat berukuran 20 liter.
3. Limbah cair yang masih panas tersebut dimasukkan ke dalam ember lalu didinginkan.
4. Setelah dingin, tambahkan biang/starter EM4 sebanyak 5-10 % v/v
5. Limbah cair yang telah ditambah starter EM4 selanjutnya disimpan pada suhu rungan selama 7 hari. Satrter ini berisi populasi bakteri bermanfaat.
6. Pembuatan pupuk cair berhasil jika saat dibuka dan berbau seperti urea atau bau busuk.
7. Pupuk cair dari limbah tempe sudah siap digunakan untuk memupuk tanah disekitar tanaman atau sayuran.
8. Jika ingin ditambah unsur KCl maka bisa ditambahkan air rendaman sabut kelapa (perbandingan perendaman sabut kelapa dan air = 50 : 50) selama 5 hari.
9. Jika belum digunakan dalam jangka dekat, sebaiknya penambahan starter < 3% (misal 1%).

D. Alat dan Bahan
1. Dandang 3. Kompor gas 5. EM4
2. Ember 4. Elpigi
BIAYA
a. Alat
No. Bahan Kegunaan Satuan Total
1. Dandang Wadah 2 buah Rp. 400.000
2. Ember Pencetakan kuesioner 3 buah Rp. 100.000
3. Dokumentasi - - Rp. 500.000
4. Alat tulis Mengisi data hasil penelitian - Rp. 30.000
5. Kompor gas Memanas. Kan 1 buah Rp. 300.000
6 Elpiji Bahan bakar 1 buah Rp. 200.000
7. EM4 Sebagai starter 3 liter Rp. 600.000
Total Rp. 2.130.000

b. Lain – lain
No. Biaya lain Kegunaan Keterangan Total
1 Biaya perjalanan Tranportasi ke tempat penelitian 1 mobil Rp. 2.000.000
2. Pulsa Menghubungi para peneliti - Rp. 200.000
3 Konsumsi Untuk biaya hidup selama penelitian 5 orang Rp. 2.500.000
Total Rp. 4.700.000
c. Total Keseluruhan
No. Anggaran Penelitian Total
1. Alat Rp. 1.530.000
2. Bahan habis pakai Rp. 600.000
3. Lain – lain Rp. 4.700.000
Total Rp. 6.830.000
JADWAL PENELITIAN

Waktu
Kegiatan Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4 Minggu 5
Persiapan alat dan bahan untuk penelitian
Peninjauan lokasi limbah cair tempe
Pelaksanaan penelitian
Membuat laporan hasil akhir









KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadapan Allah SWT,karena atas rahmat-Nya,kami dapat menyelesaikan penyusunan proposal berjudul Pengolahan Limbah Cair Tempe Menjadi Pupuk Cair Produktif .Penulisan proposal ini merupakan salah satu syarat yang harus ditempuh dalam rangka pengambilan sertifikat PKKMB Universitas Udayana 2009.
Dalam penyusunan ini, kami mendapat banyak sekali petunjuk, bimbingan, saran dan motivasi dari berbagai pihak. Sehubungan dengan hal tersebut pada kesempatan ini kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada dosen pembimbing serta kepada semua pihak yang tidak dapat disebut satu per satu yang telah memberikan bantuan dengan ikhlas.
Karena terbatasnya pengetahuan yang kami miliki, maka kami mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun demi kesempurnaan proposal ini. Akhir kata semoga proposal ini dapat diterima.

Bukit Jimbaran, September 2009

Penulis





DAFTAR PUSTAKA

Priyanto, S. 2008. Pelatihan Pembuatan Pupuk Cair dari Limbah Tempe Di Desa Pliken Kecamatan Kembaran Banyumas.
Sugiharto. 1987. Dasar-dasar Pengelolaan Air Limbah. UI-Press, Jakarta.
DIarsipkan di bawah: Uncategorized http://tijii.wordpress.com/2009/06/19/biopolimer-alginat/





















DAFTAR ISI


HALAMAN PENGESAHAN……………………………………………….

KATA PENGANTAR……………………………………………………….

DAFTAR ISI………………………………………………………………......

I. PENDAHULUAN
1. Rumusan Masalah…………………………………………….....
2. Tujuan…………………………………………………………...
3. Luaran yang diharapkan……………………………………….

II. TINJAUAN PUSTAKA………………………………………….....

III. METODE PENELITIAN
a. Objek Penelitian………………………………………………..
b. Metode Penelitian………………………………………………
c. Cara Kerja………………………………………………………
d. Alat dan Bahan…………………………………………………

IV. JADWAL KEGIATAN PROGRAM……………………………….

NAMA DAN BIODATA ANGGOTA……………………………………….

NAMA DAN BIODATA DOSEN PENDAMPING…………………….......

BIAYA………………………………………………………………………..

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………...



READ MORE - PKM Pengolahan Limbah Cair Tempe menjadi Pupuk

MANUSIA DAN KEBUDAYAAN

Manusia
Dipandang dari ilmu eksakta, manusia adalah kumpulan dari partikel-partikel atom yang membentuk jaringan sistem yang dimiliki oleh manusia (ilmu kimia). Manusia merupakan kumpulan dari berbagai sistem fisik yang saling terkait satu sama lain dan merupakan kumpulan dari energi (ilmu fisika). Manusia merupakan makhluk biologis yang tergolong dalam golongan makhluk mamalia ( ilmu biologi). Dalam ilmu-ilmu sosial, manusia merupakan makhluk yang ingin memperoleh keuntungan atau selalu memperhitungkan setiap kegiatan, sering di sebut homo economicus (ilmu ekonomi). Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri (sosiologi). Manusia merupakan makhluk yang selalu ingin mempunyai kekuasaan (politik).
Unsur-Unsur Manusia
1. Manusia memiliki empat unsur yang saling terkait, yaitu:
a. Jasad; yaitu badan kasar manusia yang tampak pada luarnya, dapat di raba, difoto, serta menempati ruang dan waktu
b. Hayat; yaitu mengandung unsur hidup, yang ditandai dengan gerak
c. Ruh, yaitu Pimpinan dan bimbingan Tuhan, daya yang bekerja secara spiritual dan memahami kebenaran, suatu kemampuan mencipta yang bersifat konseptual yang menjadi pusat lahirnya kebudayaan.
d. Nafs; dalam pengertian diri atau keakuan, yaitu kesadaran tentang diri sendiri.
2. Manusia memiliki tiga unsur kepribadian, yaitu:
a. Id. Yang merupakan struktur kepribadian yang paling primitiv dan paling tidak tampak. Id merupakan libido murni atau energi psikis yang menunjukan ciri alami yang irrasional dan terkait masalah sex, yang secara istingtual menentukan proses-proses ketidaksadaran. Id tidak berhubungan dengan lingkungan luar diri, tetapi terikat dengan struktur lain kepribadian yang pada gilirannya menjadi mediator antara insting Id dengan dunia luar.
b. Ego. Merupakan bagian atau struktur bagian yang pertama kali di bedakan dari Id, sering kali di sebut sebagai kepribadian ”eksekutif” karena peranannya dalam menghubungkan energi Id ke dalam saluran sosial yang dapat dimengerti oleh orang lain.
c. Superego. Merupakan struktur kepribadian yang paling akhir, muncul kira2 pada usia lima tahun. Dibandingkan dengan Id dan Ego, yang berkembang secara internal dalam diri individu, superego terbentuk dari lingkungan eksternal. Jadi superego menunjukkan pola aturan yang dalam drajat tertentu menghasilkan control diri melalui sistem imbalan dan hukuman yang terinternalisasi.
Dari uraian di atas dapat mengkaji aspek tidakan manusia dengan analisa hubungan antara tidakan dan unsur-unsur manusia. Seringkali misalnya orang senang terhadap penyimpangan nilai-nilai masyarakat dapat diidentifikasi bahwa orang tersebut lebih di kendalikan oleh Id dibandingkan superegonya. Atau sering kali ada kelainan yang terjadi pada manusia, misalnya orang yang berparas buruk dan bertubuh pendek berani tampil ke muka umum, dapat diterangkan dengan mengacu dengan unsur nafs (kesadaran diri) yang dimilikinya. Kesemuanya tersebut dapat digunakan sebagai alat analisa bagi tingkah laku manusia.

Hakikat Manusia
Berbicara tentang manusia maka satu pertanyaan klasik yang sampai saat ini belum memperoleh jawaban yang memuaskan adalah pertanyaan tentang siapakah manusia itu. Banyak teori telah dikemukakan, di antaranya adalah pemikiran dari aliran materialisme, idealisme, realisme klasik, dan teologis.
Aliran materialisme mempunyai pemikiran bahwa materi atau zat merupakan satu-satunya kenyataan dan semua peristiwa terjadi karena proses material ini, sementara manusia juga dianggap juga ditentukan oleh proses-proses material ini. Sedangkan aliran idealisme beranggapan bahwa jiwa adalah kenyataan yang sebenarnya. Manusia lebih dipandang sebagai makhluk kejiwaan/kerohanian. Aliran realisme klasik beranggapan bahwa jiwa adalah kenyataan yang sebenarnya. Manusia lebih dipandang sebagai makhluk kejiwaan/kerohanian, dan aliran teologis membedakan manusia dari makhluk lain karena hubungannya dengan Tuhan.
Di samping itu, beberapa ahli telah berusaha merekonstruksikan kedudukan manusia di antara makhluk lainnya. Juga berusaha membandingkan manusia dengan makhluk lainnya. Dari hasil perbandingan tersebut ditemukan bahwa semua makhluk mempunyai dorongan yang bersifat naluriah yang termuat dalam gen mereka. Sementara yang membedakan manusia dari makhluk lainnya adalah kemampuan manusia dalam hal pengetahuan dan perasaan. Pengetahuan manusia jauh lebih berkembang daripada pengetahuan makhluk lainnya, sementara melalui perasaan manusia mengembangkan eksistensi kemanusiaannya.
Maka berdasarkan uraian yang dikemukakan di atas maka hakikat manusia adalah:
a. Makhluk ciptaan Tuhan yang terdiri dari tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh.
b. Makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, jika di bandingkan dengan makhluk lainnya.
c. Makhluk biokultural yaitu makhluk mhayati yang budayawi.
d. Makhluk ciptaan Tuhan yang terkait dengan lingkungan, mempunyai kualitas dan martabat karena kemampuan bekerja dan berkarya.
Kebudayaan
Pengertian Kebudayaan banyak sekali dikemukakan oleh para ahli. Salah satunya dikemukakan oleh selo soemardjan dan soelaiman soemardi, yang merumuskan bahwa kebudayaan adalah semua hasil dari karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan, yang diperlukan manusia untuk mengusai alam skitarnya, agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk kepentingan masyarakat.
Rasa yang meliputi jiwa manusia mewujudkan segala norma dan nilai masyarakat yang perlu untuk mengatur masalah-masalah kemasyarakatan dalam arti luas., didalamnya termasuk, agama, ideology, kebatinan, kesenian, dan semua unsur yang merupakan hasil ekspresi dari jiwa manusia. Selanjutnya cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan fikir dari orang lain yang hidup bermasyarakat yang antara lain menghasilkan filsafat serta ilmu pengetahuan. Rasa dan cipta dinamakan kebudayaan Rohaniah. Semua karya, rasa, dan cipta dikuasai oleh karsa dari orang-orang yang menentukan kegunaannya, agar sesuai dengan kepentingan sebagian besar, bahkan seluruh masyarakat.
Dari pengertian tersebut menunjukan bahwa kebudayaan itu merupakan keseluruhan dari pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial, yang digunakan untuk menginterpretasikan dan memahami lingkungan yang di hadapi, untuk memenuhi segala kebutuhannya serta mendorong terwujudnya kelakuan manusia itu sendiri. Atas dasar itulah para ahli mengemukakan unsur kebudayaan yang diperinci menjadi 7 unsur, yaitu:
a. Unsur Religi
b. Sistem kemasyarakatan
c. Sistem peralatan
d. Sistem mata pencaharian hidup
e. Sistem Bahasa
f. Sistem Pengetahuan
g. Seni
Hakikat Kebudayaan
Kebudayaan sering kali dipahami dengan pengertian yang tidak tepat. Beberapa ahli ilmu sosial telah berusaha merumuskan berbagai definisi tentang kebudayaan dalam rangka memberikan pengertian yang benar tentang apa yang dimaksud dengan kebudayaan tersebut.
Akan tetapi ternyata definisi-definisi tersebut tetap saja kurang memuaskan. Terdapat dua aliran pemikiran yang berusaha memberikan kerangka bagi pemahaman tentang pengertian kebudayaan ini, yaitu aliran ideasional dan aliran behaviorisme/materialisme. Dari berbagai definisi yang telah dibuat tersebut, Koentjaraningrat berusaha merangkum pengertian kebudayaan dalam tiga wujudnya, yaitu kebudayaan sebagai wujud cultural system, social system, dan artifact.
Kebudayaan sendiri disusun atas beberapa komponen yaitu komponen yang bersifat kognitif, normatif, dan material. Dalam memandang kebudayaan, orang sering kali terjebak dalam sifat chauvinisme yaitu membanggakan kebudayaannya sendiri dan menganggap rendah kebudayaan lain. Seharusnya dalam memahami kebudayaan kita berpegangan pada sifat-sifat kebudayaan yang variatif, relatif, universal, dan counterculture.
Manusia dan Kebudayaan
Antara manusia dan kebudayaan terjalin hubungan yang sangat erat, sebagaimana yang diungkapkan oleh Dick Hartoko bahwa manusia menjadi manusia merupakan kebudayaan. Hampir semua tindakan manusia itu merupakan kebudayaan. Hanya tindakan yang sifatnya naluriah saja yang bukan merupakan kebudayaan, tetapi tindakan demikian prosentasenya sangat kecil. Tindakan yang berupa kebudayaan tersebut dibiasakan dengan cara belajar. Terdapat beberapa proses belajar kebudayaan yaitu proses internalisasi, sosialisasi dan enkulturasi. Selanjutnya hubungan antara manusia dengan kebudayaan juga dapat dilihat dari kedudukan manusia tersebut terhadap kebudayaan. Manusia mempunyai empat kedudukan terhadap kebudayaan yaitu, sebagai:
1) penganut kebudayaan,
2) pembawa kebudayaan,
3) manipulator kebudayaan,
4) pencipta kebudayaan.
Pembentukan kebudayaan dikarenakan manusia dihadapkan pada persoalan yang meminta pemecahan dan penyelesaian. Dalam rangka survive maka manusia harus mampu memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya sehingga manusia melakukan berbagai cara. Hal yang dilakukan oleh manusia inilah kebudayaan. Kebudayaan yang digunakan manusia dalam menyelesaikan masalah-masalahnya bisa kita sebut sebagai way of life, yang digunakan individu sebagai pedoman dalam bertingkah laku.
Mengapa perubahan baru ditolak atau diterima?
Suatu perilaku atau budaya yang sudah menjadi kebiasaan akan sulit untuk diubah. Masyarakat lebih menyukai kehidupan mereka berjalan seperti biasa dan berusaha untuk mempertahankan hal-hal yang nyaman. Kondisi ini menjadi alasan bahwa adanya hal-hal baru pada awalnya cenderung ditolak.
Sebagai contoh, orang tuamu mungkin menolak ketika kamu meminta sebuah handphone baru. Bagi mereka, kamu belum cukup dewasa untuk menggunakan alat komunikasi tersebut. Di sini kebanyakan orang lupa bahwa alat komunikasi seperti handphone dibutuhkan semata-mata sebagai alat penghubung antar manusia dalam berkomunikasi, dan tidak ada hubungan dengan kedewasaan seseorang. Tentu seorang anak balita tidak mungkin menggunakan handphone, karena belum mampu menguasai dan mengoperasikan alat tersebut.
Pada umumnya masyarakat sulit mengikuti perubahan yang akan merubah kebiasaan, lembaga sosial, kepercayaan dan kebiasaan. Namun ini tidak berarti bahwa semua perubahan selalu mendapat tantangan dari seluruh anggota masyarakat.
Faktor penting yang sangat berperan dan berpengaruh terhadap diterima atau ditolaknya unsur budaya baru yaitu :
1. Kebiasaan masyarakat berhubungan dengan masyarakat yang berbeda kebudayaan
Sikap masyarakat yang terbuka beraneka ragam kebudayaan, cenderung menghasilkan warga masyarakat yang lebih mudah untuk menerima kebudayaan asing atau baru. Sebaliknya, masyarakat yang tertutup lebih sulit membuka diri dan mengadakan perubahan. Terbuka dan tertutupnya sebuah masyarakat tidak harus melalui kontak sosial secara langsung. Akses terhadap media komunikasi juga menjadi faktor penentu terbuka atau tertutupnya sebuah masyarakat.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan sosial budaya
Terjadinya sebuah perubahan tidak selalu berjalan dengan lancar, meskipun perubahan tersebut diharapkan dan direncanakan. Terdapat faktor yang mendorong sehingga mendukung perubahan, tetapi juga ada faktor penghambat sehingga perubahan tidak berjalan sesuai yang diharapkan.
Faktor pendorong perubahan
Faktor pendorong merupakan alasan yang mendukung terjadinya perubahan. Menurut Soerjono Soekanto faktor yang mendorong terjadinya perubahan sosial, yaitu:
1. Terjadinya kontak atau sentuhan dengan kebudayaan lain.
Bertemunya budaya yang berbeda menyebabkan manusia saling berinteraksi dan mampu menghimpun berbagai penemuan yang telah dihasilkan, baik dari budaya asli maupun budaya asing, dan bahkan hasil perpaduannya. Hal ini dapat mendorong terjadinya perubahan dan tentu akan memperkaya kebudayaan yang ada.

2. Sistem pendidikan formal yang maju.
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang bisa mengukur tingkat kemajuan sebuah masyarakat. Pendidikan telah membuka pikiran dan membiasakan berpola pikir ilmiah, rasional, dan objektif. Hal ini akan memberikan kemampuan manusia untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya memenuhi perkembangan zaman, dan perlu sebuah perubahan atau tidak.
3. Sikap menghargai hasil karya orang dan keinginan untuk maju.
Sebuah hasil karya bisa memotivasi seseorang untuk mengikuti jejak karya. Orang yang berpikiran dan berkeinginan maju senantiasa termotivasi untuk mengembangkan diri.
Bentuk Perubahan Sosial Budaya
Perubahan adalah sebuah kondisi yang berbeda dari sebelumnya. Perubahan itu bisa berupa kemajuan maupun kemunduran. Bila dilihat dari sisi maju dan mundurnya, maka bentuk perubahan sosial dapat dibedakan menjadi:
1. Perubahan sebagai suatu kemajuan (progress)
Perubahan sebagai suatu kemajuan merupakan perubahan yang memberi dan membawa kemajuan pada masyarakat. Hal ini tentu sangat diharapkan karena kemajuan itu bisa memberikan keuntungan dan berbagai kemudahan pada manusia. Perubahan kondisi masyarakat tradisional, dengan kehidupan teknologi yang masih sederhana, menjadi masyarakat maju dengan berbagai kemajuan teknologi yang memberikan berbagai kemudahan merupakan sebuah perkembangan dan pembangunan yang membawa kemajuan. Jadi, pembangunan dalam masyarakat merupakan bentuk perubahan ke arah kemajuan (progress).
Perubahan dalam arti progress misalnya listrik masuk desa, penemuan alat-alat transportasi, dan penemuan alat-alat komunikasi. Masuknya jaringan listrik membuat kebutuhan manusia akan penerangan terpenuhi; penggunaan alat-alat elektronik meringankan pekerjaan dan memudahkan manusia memperoleh hiburan dan informasi; penemuan alat-alat transportasi memudahkan dan mempercepat mobilitas manusia proses pengangkutan; dan penemuan alat-alat komunikasi modern seperti telepon dan internet, memperlancar komunikasi jarak jauh.


2. Perubahan sebagai suatu kemunduran (regress)
Tidak semua perubahan yang tujuannya ke arah kemajuan selalu berjalan sesuai rencana. Terkadang dampak negatif yang tidak direncanakan pun muncul dan bisa menimbulkan masalah baru. Jika perubahan itu ternyata tidak menguntungkan bagi masyarakat, maka perubahan itu dianggap sebagai sebuah kemunduran.
Sebab-Sebab Perubahan Sosial Budaya
Sebuah perubahan bisa terjadi karena sebab dari dalam (intern) atau sebab dari luar (ekstern). Dalam sebuah masyarakat, perubahan sosial dan budaya bisa terjadi karena sebab dari masyarakat sendiri atau yang berasal dari luar masyarakat.
1. Sebab Intern, merupakan sebab yang berasal dari dalam masyarakat sendiri, antara lain:
a. Dinamika penduduk, yaitu pertambahan dan penurunan jumlah penduduk.
Pertambahan penduduk akan menyebabkan perubahan pada tempat tinggal. Tempat tinggal yang semula terpusat pada lingkungan kerabat akan berubah atau terpancar karena faktor pekerjaan. Berkurangnya penduduk juga akan menyebabkan perubahan sosial budaya. Contoh perubahan penduduk adalah program transmigrasi dan urbanisasi.

b. Adanya penemuan-penemuan baru yang berkembang di masyarakat, baik penemuan yang bersifat baru (discovery) ataupun penemuan baru yang bersifat menyempurnakan dari bentuk penemuan lama (invention)
c. Munculnya berbagai bentuk pertentangan (conflict) dalam masyarakat.
d. Terjadinya pemberontakan atau revolusi sehingga mampu menyulut terjadinya perubahan-perubahan besar. Misalnya, Revolusi Rusia (Oktober 1917) yang mampu menggulingkan pemerintahan kekaisaran dan mengubahnya menjadi sistem diktator proletariat yang dilandaskan pada doktrin Marxis. Revolusi tersebut menyebabkan perubahan yang mendasar, baik dari tatanan negara hingga tatanan dalam keluarga.
2. Sebab Ekstern
Merupakan sebab yang berasal dari dalam masyarakat sendiri, antara lain:
a. Adanya pengaruh bencana alam.
Kondisi ini terkadang memaksa masyarakat suatu daerah untuk mengungsi meninggalkan tanah kelahirannya. Apabila masyarakat tersebut mendiami tempat tinggal yang baru, maka mereka harus menyesuaikan diri dengan keadaan alam dan lingkungan yang baru tersebut. Hal ini kemungkinan besar juga dapat memengaruhi perubahan pada struktur dan pola kelembagaannya.
b. Adanya peperangan.
Peristiwa peperangan, baik perang saudara maupun perang antar negara dapat menyebabkan perubahan, karena pihak yang menang biasanya akan dapat memaksakan ideologi dan kebudayaannya kepada pihak lain yang kalah.
c. Adanya pengaruh kebudayaan masyarakat lain.
Bertemunya dua kebudayaan yang berbeda akan menghasilkan perubahan. Jika pengaruh suatu kebudayaan dapat diterima tanpa paksaan, maka disebut demonstration effect. Jika pengaruh suatu kebudayaan saling menolak, maka disebut cultural animosity. Jika suatu kebudayaan mempunyai taraf yang lebih tinggi dari kebudayaan lain, maka akan muncul proses imitasi yang lambat laun unsur-unsur kebudayaan asli dapat bergeser atau diganti oleh unsur-unsur kebudayaan baru tersebut.
Pengertian Perubahan Sosial Budaya
1. Max Weber berpendapat bahwa perubahan sosial budaya adalah perubahan situasi dalam masyarakat sebagai akibat adanya ketidaksesuaian unsur-unsur (dalam buku Sociological Writings).
2. W. Kornblum berpendapat bahwa perubahan sosial budaya adalah perubahan suatu budaya masyarakat secara bertahap dalam jangka waktu lama (dalam buku Sociology in Changing World)
Karakteristik Perubahan Sosial dan Budaya.
Dengan memahami definisi perubahan sosial dan budaya di atas, maka suatu perubahan dikatakan sebagai perubahan sosial budaya apabila memiliki karakteristik sebagai berikut.
1. Tidak ada masyarakat yang perkembangannya berhenti karena setiap masyarakat mengalami perubahan secara cepat ataupun lambat.
2. Perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan akan diikuti perubahan pada lembaga sosial yang ada.
3. Perubahan yang berlangsung cepat biasanya akan mengakibatkan kekacauan sementara karena orang akan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.
4. Perubahan tidak dapat dibatasi pada bidang kebendaan atau spiritual saja karena keduanya saling berkaitan.
















READ MORE - MANUSIA DAN KEBUDAYAAN